Harga Tembaga Melonjak, Tanda Ekonomi Mulai Pulih?

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 22 Feb 2021 11:13 WIB
Tambang Batu Hijau PT Newmont terletak di Nusa Tenggara Barat (NTB). detikcom berksempatan melihat dari dekat proses penambangan tembaga, emas dan perak di Sumbawa, NTB, tersebut,Rabu, (29/06/2011). file/detikfoto
Ilustrasi/Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Harga tembaga naik ke level tertinggi dalam hampir satu dekade pada hari Jumat (19/2). Kenaikan itu dikarenakan investor dalam komoditas tersebut mengantisipasi peningkatan permintaan untuk proyek infrastruktur dan konstruksi pasca pandemi COVID-19.

Dilansir CNN, Senin (22/2/2021), harga tembaga naik di atas US$ 4 atau di atas Rp 56.000 (kurs Rp 14.000) per pon untuk pertama kalinya sejak September 2011.

Permintaan tembaga diprediksi tetap tinggi dalam beberapa waktu mendatang. Hal ini bersamaan dengan dibukanya kembali ekonomi Amerika Serikat (AS) dan rencana Presiden Joe Biden untuk berinvestasi besar-besaran di infrastruktur, serta pemulihan ekonomi China yang sedang berlangsung.

Ekonomi China tumbuh 2,3% pada tahun 2020. Meskipun itu menjadi tingkat pertumbuhan tahunan paling lambat sejak tahun 1970-an, beberapa dunia menyambut positif di saat yang lain mengalami guncangan ekonomi karena pandemi COVID-19.

Menurut analis komoditas di BCA Research, China adalah bagian penting dari harga tembaga karena merupakan konsumen logam yang besar. Permintaan sangat tinggi sehingga persediaan berada di level terendah dalam hampir 10 tahun.

"Sekarang pemulihan telah meluas dan itu pertanda baik untuk harga dalam jangka panjang, setiap negara membutuhkan tembaga," kata analis komoditas di Bank of America Merrill Lynch (BAC) bulan lalu.

Analis BofA menilai harga tembaga bisa naik di atas US$ 4,54 atau Rp 63.560 pada tahap tertentu. Risiko kesuksesan tembaga adalah pembukaan ekonomi yang ditunda dalam rangka untuk kemanjuran vaksin atau peningkatan kasus baru COVID-19.

(aid/ara)