RI Genjot Energi Terbarukan, Bisnis Migas Bakal Lenyap?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 22 Apr 2022 16:17 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Pemerintah tengah mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT). Di sisi lain, Indonesia masih bergantung minyak dan gas bumi (migas) untuk memenuhi kebutuhan energi.

Lalu, bagaimana nasib sektor hulu migas di tengah gencarnya pemerintah menggenjot EBT?

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, migas sering kali hanya dilihat dari sisi energi. Padahal, migas juga terkait dengan bahan baku industri.

Dia mengatakan, jika EBT bisa memenuhi kebutuhan energi, migas bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri.

"Meskipun, andai-andai someday EBTKE sudah memenuhi kebutuhan energi, maka kebutuhan sebagai bahan baku industri petrokimia masih akan sangat besar, jadi akan bergeser ke arah sana," katanya dalam konferensi pers, Jumat (22/4/2022).

Dia mengatakan, EBT sendiri masih dihadapkan oleh masalah harga. Menurutnya, agar bisa bersaing dengan energi konvensional, EBT memerlukan insentif.

"Energi itu sendiri kita tahu, EBTKE masih menghadapi, pertama harga, persaingan harga, makanya EBTKE harus mendapatkan insentif-insentif untuk bisa bersaing dengan energi konvensional," ujarnya.

Tambahnya, meski porsi migas semakin lama mengecil dalam bauran energi, tapi secara volume masih akan meningkat. Sehingga, target produksi minyak 1 juta barel per hari di 2030 masih relevan.

"Jadi kalau saya kembalikan target 1 juta barel masih sangat relevan, kita masih kekurangan," ujarnya.

(acd/dna)