×
Ad

Menghitung Dampak Penghematan Energi dari WFH Sehari dalam Seminggu

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 30 Mar 2026 11:51 WIB
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Jokic
Jakarta -

Kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja swasta sedang digodok pemerintah untuk menghemat energi. Skema kerja fleksibel ini digodok sebagai respons pemerintah pada potensi krisis energi imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat menyebutkan bisa jadi kebijakan WFH akan dilakukan pada hari Jumat di setiap pekan. Menurutnya, kebijakan ini diambil agar Indonesia bisa hemat BBM. Purbaya tidak merinci berapa persentase penghematannya sebab hal itu akan tergantung pada pergerakan harga minyak dunia.

"Kalau kita pilih Jumat dan itu kan, Jumat, jadi pasti ada penghematan BBM. Berapa persen, saya nggak tau, bisa berubah-ubah tergantung harga minyak,"ungkap Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (27/3/2026) yang lalu.

Lantas, seberapa besar WFH bisa menghemat penggunaan energi?

Dalam kajian dan simulasi yang dilakukan Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), kebijakan WFH sehari dalam sepekan bisa menghemat fiskal pemerintah Rp 9,7 triliun per tahun karena pengurangan energi yang dilakukan dengan membuat ASN bekerja dari rumah.

Angka itu muncul dari simulasi dengan pendekatan back-of-the-envelope calculation atau perhitungan kasar berbasis asumsi sederhana. Penghematan itu terjadi dari efisiensi konsumsi energi di gedung-gedung pemerintah, listrik, pendingin ruangan, operasional fasilitas, sampai beban transportasi dinas para ASN.

Meski memberikan penghematan besar, Analis Senior ISEAI Ronny P. Sasmita tetap mengingatkan bahwa kebijakan WFH satu hari per minggu tidak serta merta menjadi silver bullet atau solusi instan penghematan negara.

"Dalam konteks APBN, ini tentu bukan angka kecil, tapi juga bukan game changer. Lebih mirip 'hemat receh tapi rutin.' Dampaknya lumayan, tapi tidak menyelesaikan masalah struktural fiskal," beber Ronny kepada detikcom, Senin (30/3/2026).

Tidak Signifikan

Di sisi lain, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira menilai penghematan energi yang terjadi karena WFH sehari setiap minggu tidak signifikan. Menurut penghitungannya, dari total konsumsi BBM secara nasional, penghematannya mungkin hanya 0,5-1,5% saja.

"Kecil sekali 0,5-1,5% dari total konsumsi BBM, kalau WFH 1 hari dalam seminggu," sebut Bhima ketika dihubungi detikcom.

Di sisi rumah tangga, Bhima menilai justru peningkatan penggunaan energi akan terjadi, mulai dari penggunaan listrik di rumah ataupun penggunaan LPG untuk memasak bagi masyarakat yang WFH.

"Di sisi listriknya kan dari energi fosil batubara dan minyak juga yang kena fluktuasi harga. Sementara gas LPG impornya tinggi," beber Bhima.

Senada, Peneliti Senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Muhammad Ishak Razak menilai WFH tidak akan signifikan menghemat energi secara signifikan. Mungkin konsumsi energi seperti BBM bisa berkurang, namun jumlahnya tidak besar.

Sebab, yang kebanyakan WFH adalah pekerja yang berada di kantor saja, jumlahnya secara populasi tidak banyak. Pegawai yang fokusnya pada sektor produksi hingga pelayanan tidak bisa serta merta melakukan WFH. Begitu juga para pekerja informal yang mesti mencari uang dengan melakukan perjalanan ke luar rumah.

"Perlu dipahami bahwa proporsi pekerja kantoran relatif kecil karena mayoritas pekerja adalah pekerja informal, perdagangan, buruh pabrik, dan ojek online. Sebagian pekerja juga menggunakan transportasi umum. Jadi, efeknya tidak akan terlalu signifikan," beber Ishak ketika dihubungi detikcom.

Skema kerja WFH di sisi lain justru diam-diam bisa menambah konsumsi BBM lebih banyak. Ishak mencontohkan bisa saja pekerja yang WFH malah ke luar rumah ke mal, kafe, atau paling minim antar jemput anak. Semua itu dilakukan dengan menggunakan energi.




(hal/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork