Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bercerita harus bekerja pada Sabtu dan Minggu mengurus bahan bakar minyak (BBM). Bahkan Bahlil mengaku persoalan BBM terbawa sampai ke alam bawah sadar.
Mulanya, Bahlil mengatakan Indonesia masih sangat ketergantungan impor, khususnya Liquefied Petroleum Gas (LPG). Dari total konsumsi LPG nasional yang mencapai 8,5 juta ton per tahun, produksi dalam negeri hanya 1,8- 1,9 juta ton.
Artinya, sekitar 75% sampai 80% kebutuhan gas melon masyarakat harus didatangkan dari luar negeri. Kondisi ini ditambah dengan situasi di Timur Tengah yang sempat membuat acuan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) ikut terkerek naik.
"Waktu harganya ICP US$ 70 waktu itu Saudi Aramco 500 sampai 600, itu kita punya devisa keluar per tahun Rp 120 triliun. Sekarang ICP-nya seperti ini, bayangan saya devisa kita keluar untuk mengurus LPG tidak kurang dari Rp 140-150 triliun, dan total pembelanjaan kita BBM per tahun kurang lebih sekitar 28 sampai US$ 30 miliar," kata Bahlil dalam acara CNBC Energy Forum 2026, Jakarta Pusat, Kamis (25/6/2026).
Impor BBM-LPG Bikin Rupiah Loyo
Menurut Bahlil, tingginya angka impor BBM dan LPG ini menjadi salah satu faktor penyebab nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah. Alhasil, anggaran subsidi yang dipatok Rp 80-87 triliun kini membengkak dan pemerintah terpaksa harus menombok.
Kondisi ini yang membuat pemerintah terus mencari jalan keluar. Bahlil pun menyentil anggapan pihak lain yang mengira pemerintahan yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto tenang.
Padahal di saat yang sama, negara-negara lain menjerit karena krisis BBM. Namun, bagi Bahlil, biarlah para menteri dan pejabat memikirkan jalan keluarnya, daripada masyarakat yang merasakan kepanikan akibat kelangkaan energi atau lonjakan harga yang tak terkendali.
"Orang bilang kita ini pemerintah tenang. Negara lain, harga minyak naik, susah. Ada uang, belum tentu ada barang. Apalagi tidak ada uang, tidak ada barang, mati kita. Mati. Saya katakan untuk teman-teman mungkin rakyat kita kita kasih tenang," jelas Bahlil.
Kerja Tanpa Libur
Bahlil membeberkan anggota kabinet di bawah pimpinan Presiden Prabowo Subianto tetap bekerja tanpa hari libur. Bahkan, persoalan bahan bakar minyak (BBM) terbawa sampai ke alam bawah sadar.
"Tapi kami anggota kabinet di bawah pimpinan Bapak Presiden Prabowo itu hari Sabtu Minggu nggak ada hari libur. Nanya terus barang ini, apalagi menyangkut BBM. Kadang-kadang kita tidur pun ngigo BBM, BBM, BBM. Ngigo Pak," tutur Bahlil.
Ia mengatakan, saking takutnya igauan tentang BBM mengganggu ketenangan rumah tangga, Bahlil kelakar sampai harus membatasi jarak dengan sang istri.
"Bulan puasa pisah kamar saya sama istri. 'Kau jangan dekat-dekat saya dulu.' Saya bilang, 'Pusing saya ngigo BBM'. Kan celaka nanti kan? Bahaya Pak. Jadi, biarlah sakitnya itu kami di anggota kabinet. Rakyat itu biar tidak boleh terlalu sakit tentang ketersediaan gitu," cerita Bahlil.
Simak juga Video Prabowo soal Bahlil Dapat Tepuk Tangan Meriah: Apa Gara-gara BBM Tak Naik?
(rea/ara)