×
Ad

PTBA Curhat DMO Batu Bara Kegedaan, Laba Tergerus

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 15 Sep 2026 21:56 WIB
Tumpukan batu bara di area pengumpulan Dermaga Batu bara Kertapati milik PT Bukit Asam Tbk Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Jakarta -

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengungkap besarnya beban pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara yang harus ditanggung perusahaan. DMO merupakan kewajiban perusahaan mengalokasikan sebagian produksinya guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.

PTBA mencatat potensi laba yang hilang akibat pemenuhan DMO di atas kewajiban mencapai sekitar Rp 14,5 triliun sepanjang 2018-2025. Menurut Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan, realisasi DMO PTBA selalu berada di atas ketentuan pemerintah.

"Sebagai gambaran dari tahun 2021 sampai 2025 selalu dua kali lipat lebih dari 25% yang diharuskan. Kita pernah mencoba berapa penurunan profit karena kita melebihi 25% DMO itu dari tahun 2018 sampai 2025 sekitar Rp 14,5 triliun, itu yang penurunan profit karena kita memenuhi melebihi DMO yang seharusnya," kata Bambang dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Jakarta, Selasa (15/9/2026).

Pada 2025, Bambang menyebut porsi DMO PTBA bahkan mencapai lebih dari 54%. Besarnya porsi tersebut membuat perusahaan harus mengalokasikan lebih dari separuh penjualan batu baranya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Bambang mengatakan persoalan DMO menjadi perhatian PTBA setiap tahunnya. Sebab, menurutnya, masih terdapat perusahaan batu bara lain yang cenderung kurang mematuhi kewajiban DMO sehingga PTBA menjadi tumpuan pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

"Hari ini yang menjadi isu adalah masalah DMO. DMO ini selalu setiap tahun menjadi persoalan karena dari sisi kami melihatnya perusahaan-perusahaan batubara lain dari perusahaan itu cenderung kurang mematuhi DMO. Sehingga selalu yang menjadi tumpuan adalah PT Bukit Asam," ujarnya.

Karena itu, PTBA meminta agar pemenuhan kebutuhan batu bara dalam negeri dibebankan secara lebih merata kepada perusahaan-perusahaan batu bara. Bambang berharap tanggung jawab dipikul bersama-sama oleh perusahaan batu bara.

Sementara itu, sepanjang semester I 2026, porsi penjualan batu bara PTBA ke pasar domestik mencapai 51%. Batu bara tersebut diserap sejumlah sektor, antara lain PLN, industri pupuk dan semen, sementara 49% sisanya diekspor ke sejumlah negara seperti Vietnam, Bangladesh, Kamboja dan India.

Dari sisi kinerja, produksi PTBA pada semester I 2026 mengalami penurunan akibat tingginya intensitas hujan sepanjang Januari hingga Maret. Kondisi cuaca turut mengganggu aktivitas angkutan dan penjualan batu bara perusahaan.

Meski demikian, laba bersih PTBA pada semester I 2026 tercatat meningkat sekitar 218% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih naik dari Rp 830 miliar menjadi Rp 2,65 triliun.

"Tetapi secara keseluruhan laba bersih mengalami kenaikan yang cukup signifikan yaitu sekitar 218% dari tahun lalu Rp 0,83 triliun, untuk semester I tahun ini sudah mencapai Rp 2,65 triliun," tutup Bambang.




(ily/hns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork