Jangan Panik! Ini Penyebab Volatilitas Pergerakan Harga Bitcoin

Atta Kharisma - detikFinance
Senin, 16 Mei 2022 08:08 WIB
Ilustrasi Bitcoin
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Investasi Bitcoin terus menjadi magnet bagi para investor, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman, karena nilainya yang berpotensi naik terus di masa depan. Tapi layaknya instrumen investasi lain, investasi Bitcoin juga memiliki risiko.

Salah satunya adalah pergerakan harga Bitcoin yang volatil. Artinya, harga Bitcoin bisa naik atau turun secara signifikan dalam rentang waktu yang terbilang singkat.

Di satu sisi, volatilitas Bitcoin ini bisa jadi daya tarik tersendiri. Semakin volatil sebuah aset, maka semakin tinggi juga risikonya. Tapi semakin tinggi risikonya, maka peluang cuannya pun lebih tinggi.

Cuan Besar di Balik Risiko Tinggi Volatilitas Bitcoin

Harga emas pada tahun 2017 ada di kisaran Rp 576.000 per gram dan pada Mei 2022 harga per gramnya berada di kisaran Rp 975.000. Artinya, harga emas naik sekitar 69% dalam 5 tahun.

Sementara itu, 1 Bitcoin dipertukarkan di kisaran Rp 27 juta pada Mei 2017. Bulan Mei 2022, harganya sudah menyentuh kisaran Rp 500 juta. Dalam kurun waktu yang sama, kenaikan harga Bitcoin mencapai 1.700%.

Bitcoin memang memiliki kenaikan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan emas. Namun jika dilihat lebih dekat lagi, ada beberapa momen di mana harga Bitcoin bisa turun hingga lebih dari 30%, kemudian kembali melonjak dalam hitungan minggu atau bahkan hari.

Karenanya, tak jarang investor pemula merasa kewalahan dengan volatilitas Bitcoin. Padahal, turun-naik harga aset sebetulnya wajar, bahkan harus terjadi. Sebab, Anda tidak akan mendapat keuntungan bila nilai aset Anda diam di tempat. Hanya saja dalam konteks Bitcoin maupun aset kripto secara umum, pergerakan harganya memang cenderung lebih volatil.

Regulasi Pemerintah Juga Berpengaruh pada Pergerakan Harga Bitcoin?

Dikutip dari keterangan Luno Indonesia, pergerakan harga Bitcoin memang banyak dipengaruhi oleh supply dan demand, atau permintaan dan ketersediaan. Kendati demikian, sentimen dari investor maupun pengguna Bitcoin, regulasi pemerintah, dan pemberitaan di media, juga menjadi beberapa faktor lain yang mempengaruhi volatilitas Bitcoin.

Contohnya, saat pemerintah dan bank sentral Tiongkok di tahun 2021 mengeluarkan pernyataan bahwa seluruh transaksi maupun layanan yang berkaitan dengan kripto adalah ilegal. Seluruh aktivitas mining atau 'penambangan' Bitcoin dilarang, yang lantas berujung pada penutupan besar-besaran terhadap semua pusat mining kripto di Tiongkok.

Desas-desus tentang desakan pemerintah Tiongkok untuk menyetop kegiatan mining Bitcoin sempat membuat harganya turun. Setelah muncul pernyataan resmi pada bulan Mei, harga Bitcoin terus turun hingga Agustus 2021 ke kisaran US$ 29.700 lantaran para miner harus menghentikan aktivitasnya.

Klik halaman selanjutnya >>>



Simak Video "Walau Alami Penurunan, Developer yakin Harga Kripto Akan Tetap Bullish"
[Gambas:Video 20detik]