×
Ad

Kebijakan Iran Bikin Harga Bitcoin Naik, Sesaat atau Berlangsung Lama?

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 16 Apr 2026 09:11 WIB
Ilustrasi/Foto: Shutterstock
Jakarta -

Harga Bitcoin naik 6% hingga mendekati level US$ 75.000 pada Senin (13/4). Kondisi itu menyusul fenomena short squeeze masif yang dipicu blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat (AS) hingga Iran merespons dengan mewajibkan pembayaran 'Tol Bitcoin' bagi seluruh kapal tanker yang melintasi jalur tersebut.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma mengatakan lonjakan harga Bitcoin dan aset kripto lain mencerminkan semakin kuatnya posisi aset kripto dalam merespons tekanan global. Dinamika geopolitik ini disebut tidak hanya memicu likuidasi posisi short senilai ratusan juta dolar, tetapi juga mengukuhkan fungsi kripto sebagai alat strategis dalam ekonomi modern.

"Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai. Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas," ujar Antony dalam keterangan tertulis, Kamis (16/4/2026).

Langkah Iran mengenakan tarif setara US$ 1 per barel dalam bentuk Bitcoin menciptakan permintaan organik yang masif secara instan. Sistem pembayaran berbasis blockchain ini digunakan Iran untuk memastikan transaksi tetap berjalan dan strategi untuk menghindari sanksi internasional dengan memanfaatkan sistem keuangan di luar jangkauan AS.

Di sisi lain, inflasi (CPI) AS yang naik ke 3,3% pada Jumat (10/4) menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tren 1-2 tahun terakhir yang rata-rata berada di kisaran 2,4%-3%. Kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah meningkatkan ekspektasi bahwa inflasi akan tetap tinggi sehingga mendorong investor melakukan diversifikasi ke aset alternatif seperti Bitcoin serta memperkuat narasi sebagai safe haven di tengah tekanan pada nilai mata uang konvensional.

Pada kisaran harga US$ 74.000-75.000 saat ini, pergerakan Bitcoin menunjukkan penguatan yang turut didukung oleh arus masuk dana (inflow) ke ETF Bitcoin spot dengan nilai mencapai sekitar US$ 1,94 miliar sepanjang Maret-April 2026. Dukungan likuiditas ini memperkuat struktur harga dan menjaga momentum positif dalam jangka pendek.

Sentimen positif itu turut mendongkrak aset kripto lainnya. Berdasarkan data CoinMarketCap, Ethereum (ETH) terdongkrak naik 8% ke level US$ 2.380 dan diikuti Solana (SOL) yang menguat 5,2% ke US$ 86,60 serta BNB yang naik 3,2% ke posisi US$ 615,50.

Menurut Antony, dinamika ini menunjukkan bahwa industri kripto mulai memasuki fase baru dalam adopsinya. "Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. Ini adalah perkembangan yang penting karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global," tambahnya.

Meski demikian, Antony mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Faktor lain seperti kebutuhan likuiditas menjelang Producer Price Index dan penjualan pajak di AS, serta perubahan kebijakan moneter berpotensi mempengaruhi pergerakan harga jangka pendek. Oleh karena itu, investor diimbau untuk tetap mengedepankan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat. Secara historis, April 2026 merupakan bulan positif bagi Bitcoin dengan rata-rata kenaikan 69% sejak 2013 ditutup di zona hijau.

"INDODAX melihat perkembangan ini mencerminkan pergeseran peran kripto dari sekadar instrumen investasi menjadi bagian dari dinamika ekonomi global. Dalam hal ini, INDODAX berkomitmen untuk terus menyediakan platform yang aman dan transparan, serta mendukung investor Indonesia dalam memahami dan merespons peluang di industri aset digital secara lebih bijak guna mendorong terciptanya manfaat jangka panjang bagi para member," pungkasnya.

Tonton juga video "Iran: Belum Ada Konfirmasi soal Perpanjangan Gencatan Senjata"




(aid/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork