Jakarta - Diskusi bertajuk "Menggali Potensi Alternatif Pembiayaan bagi UMKM" digelar di Jakarta. Sejumlah ahli hadir menjadi pembicara.
Foto Bisnis
Menggali Potensi Alternatif Pembiayaan bagi UMKM
Diskusi bertajuk βMenggali Potensi Alternatif Pembiayaan bagi UMKMβΒ diselenggarakan oleh Investortrust. Tahun ini, ada gap sekitar Rp 2.100 triliun dari Rp 3.700 triliun dana yang dibutuhkan. Sedang pada tahun 2025 dan 2026, gap antara kebutuhan dan pembiayaan yang tersedia diperkirakan, masing-masing, sebesar Rp 2.300 triliun dan Rp 2.400Β triliun.Β Demikian data dari EY. βGapβ ini cenderung membesar jika tidak ada upaya serius untuk memperkecil.
βGapβ yang terus membesarΒ antara kebutuhan pembiayaan dan dana yang tersedia ini merupakan sebuah kenyataan ironisΒ di negeri kita. UMKM digadang-gadang sebagai βpilarβ terpenting ekonomi negara danΒ penyelamat saat ekonomi bangsa didera krisis. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan, pada tahun 2021, jumlah usaha mikro, kecil, dan menengahΒ UMKM mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 61,07% atau senilai Rp 8.573,89 triliun. UMKM juga berkontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja hingga 97%. Porsi investasi UMKM mencapai 60,4%.
Usaha mikro atau UMiΒ βunit usaha dengan omzet maksimal Rp 2 miliar pertahunβΒ mencapaiΒ 63,955 unit dan berkontribusi 99,62% terhadap total unit usaha. Pelaku usaha kecil βberomzet Rp 2 miliar hingga 15 miliar per tahunβΒ sebanyak 193.959 unit. Porsi unit usaha kecil hanya 0,3% dari jumlah UMKM. Unit usaha menenengah βdengan omzet Rp15 miliar hingga Rp 50 miliar per tahunβ sebanyak 44.728 unit atau 0,07% dari UMKM. Sedang usaha besar 5.550 unit atau 0,01% dari total pelaku usaha. Masuk kategori usaha besar atau korporasi adalah unit usaha dengan omzet di atas Rp 50 miliar per tahun.











































