Konstruksi dan Properti Loyo, Pengusaha Baja Cari Peluang di Sektor Ini

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 22 Nov 2020 16:46 WIB
Progres pembangunan Rumah Susun Sewa Tingkat Tinggi (RTT) Pasar Rumput terus dikebut. Rencananya proyek tersebut akan selesai pada akhir 2018.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Pengusaha baja menjadi salah satu pihak yang sangat terpukul di tengah pandemi Corona. Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISIA) mendata, utilisasi pabrikan pada April-Mei telah merosot mengikuti kontraksi permintaan. Permintaan pada industri hulu baja bahkan menurun 50%-60%.

Namun kondisi kenormalan baru yang terjadi di tengah pandemi dinilai akan membuat industri baja kembali bergairah. Pengusaha baja menilai proses menuju normal bagi industri baja akan berjalan selama enam bulan ke depan.

"Sejujurnya saya yakin dan percaya semua pihak termasuk Bapak Presiden Joko Widodo menginginkan kita dapat recover dan rebound secepat-cepatnya. Namun saya rasa proses ini masih akan berjalan enam bulan ke depan," kata Direktur Marketing PT Alsun Suksesindo, Nicolas Kesuma, dalam keterangannya, Minggu (22/11/2020).

Nicolas memaparkan kini industri baja mulai melirik sektor kesehatan. Pertumbuhan permintaan produk untuk menunjang sektor kesehatan meningkat sangat pesat.

Hal ini terjadi karena industri baja mulai mendapat kepercayaan dari pemerintah untuk ikut berpartisipasi dalam beberapa proyek bangunan isolasi maupun observasi dalam rangka penanganan COVID-19.

"Kami dipercaya pemerintah berpartisipasi dalam pembangunan RS Pulau Galang di Batam, RS UGM di Yogya dan yang sedang on going adalah RS Adam Malik di Medan," imbuh Nicolas.

Implementasi harga baru gas industri juga mulai mendorong ekspansi sektor manufaktur. Saat ini beberapa perusahaan baja memiliki divisi produk seperti atap metal segmen industri, floordeck segmen komersial, baja ringan segmen residensial, guard rail segmen infrastruktur, dan sandwich panel segmen medical.

Nicolas menyebut, selama pandemi COVID-19, segmen industri, komersial, residensial, dan infrastruktur turun karena karena faktor daya beli masyarakat yang sangat menurun.

"Secara otomatis pihak owner atau developer menunda kegiatan ekspansi," ujar Nicolas.

(dna/dna)