Petani Tebu ke APEI: Jangan Main-main Minta Impor Gula

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 16 Apr 2021 10:39 WIB
Gula menjadi salah satu bahan pangan pokok yang diimpor pemerintah. Impor itu dilakukan untuk menjaga pasokan harga dan pasokan menjelang Ramadhan 2020.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Sejumlah industri makanan dan minuman mengaku sulit memperoleh gula rafinasi hingga membuat sistem produksi terpaksa berhenti. Ketua Asosiasi Pesantren Entrepreneur Indonesia (APEI) Muhammad Zakki menjelaskan, industri makanan minuman di Jawa Timur harus membeli gula rafinasi pada pabrik-pabrik gula rafinasi yang berlokasi di luar Jatim, seperti di Banten dan Lampung dengan biaya yang tinggi karena pabrik-pabrik gula di Jawa Timur tidak ada satu pun yang mendapatkan kuota impor raw sugar sebagai bahan baku gula rafinasi.

Ia menuding, masalah ini terjadi karena adanya ketentuan pada Permenperin Nomor 3 Tahun 2021 tentang Jaminan Ketersediaan Bahan Baku Industri Gula dalam rangka Pemenuhan Kebutuhan Gula Nasional hanya mengizinkan perusahaan gula kristal rafinasi yang memiliki izin usaha industri (IUI) dan persetujuan prinsip sebelum 25 Mei 2010 melakukan importasi gula mentah impor.

Lantas bagaimana faktanya?

Merespons keluhat tersebut, Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Soemitro Samadikoen mengatakan, ada sejumlah kekeliruan klaim yang disampaikan APEI dalam kaitannya dengan ketersediaan gula rafinasi dan kaitannya dengan kondisi UMKM di Jawa Timur.

Pertama adalah kondisi UMKM di sektor makanan dan minuman yang disebut nyaris gulung tikar karena sulit memperoleh gula rafinasi. Sebagai pelaku usaha yang juga berbasis di Jawa Timur, Soemitro mengaku belum ada satupun pihak yang mengeluh kepadanya terkait ketersediaan bahan baku gula.

"Saya ingin tanya juga, jangan gede-gedein masalah lah, UMKM apa yang di Jawa Timur nggak bisa berproduksi? Masih jalan seperti biasanya kok! Nggak ada itu. Saya ketua umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat, rumah saya di Jawa Timur. Kalau ada kesulitan, pasti mereka akan gruduk ke rumah saya," tutur dia saat dihubungi detikcom, Selasa (13/4/2021).

Kedua, sambung dia, tak ada pabrik gula rafinasi. Adapun pabrik gula di Jawa Timur adalah pabrik gula konsumsi berbasis tebu. Ini sekaligus menjawab klaim APEI yang menyebut pabrik gula rafinasi di Jawa Timur tak bisa berproduksi karena tak dapat kuota impor raw sugar.

"Dari dulu Jawa Timur nggak ada pabrik gula rafinasi, nggak ada yang ribut begitu. Pabrik gula rafinasi memang dari dulu ada 11. Kok dibeda-bedain?" beber dia.

Ia curiga, ada pihak yang sengaja menyuarakan informasi kelangkaan gula di Jawa Timur hanya demi memeproleh tambahan kuota impor raw sugar atau gula mentah untuk memproduksi gula rafinasi.

"Jangan-jangan ini pesanan gitu loh supaya ada tambahan kuota impor," sebut Soemitro.

Ia khawatir, bila kondisi ini dibiarkan dan pemerintah menuruti dengan memberi tambahan kuota impor raw sugar, nasib petani tebu di tanah air malah bakal semakin merana.

"Kalau tambah lagi (kuota impor) kita (petani tebu) semakin hancur. Lima puluh persen petani tebu itu ada di Jawa Timur, jadi jangan main-main untuk dikit-dikit minta impor," tegas dia.



Simak Video "Gaduh Stok Gula Rafinasi Langka di Jawa Timur"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/dna)