Pabrik Baterai Kendaraan Listrik Korsel Cuma Boleh Impor Bahan Baku 2 Tahun

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 15 Sep 2021 14:31 WIB
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia/Foto: Mohammad Wildan/20detik
Jakarta -

Korea Selatan (Korsel) melalui perusahaan-perusahaan nasionalnya mulai merealisasikan investasi industri kendaraan listrik. Hari ini telah dilakukan groundbreaking pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang milik PT HKML Battery Indonesia, nilai investasinya US$ 1,1 miliar atau setara Rp 15,62 triliun (kurs Rp 14.200).

Pabrik baterai kendaraan listrik itu merupakan bagian dari nota kesepahaman yang disepakati antara Indonesia dengan Korea Selatan terkait proyek investasi baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai US$ 9,8 miliar atau setara Rp 142 triliun.

Pabrik baterai kendaraan listrik itu berkapasitas 10 gigawatt hour (GWH). Perusahaan pemilik pabrik itu merupakan gabungan antara konsorsium perusahaan Korsel dan konsorsium BUMN RI.

"10 giga hari ini adalah hanya bagian dari US$ 9,8 miliar tersebut, karena arahan Bapak Presiden bagaimana membalikkan pikirkan jadi bukan hulunya dulu tapi hilirnya dulu yang kita mainkan," kata Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia disiarkan dari YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (15/9/2021).

Bahlil menerangkan, pemerintah memang lebih dulu mendorong investasi di hilir dari rantai produksi kendaraan listrik. Seperti tahun lalu sudah direalisasikan pembangunan pabrik mobil listrik milik Hyundai Group di Kota Deltamas, Cikarang Pusat senilai US$ 1,5 miliar atau setara Rp 21 triliun.

Mereka dipancing untuk masuk terlebih dahulu di sektor hulu untuk kemudian dikembangkan di hilirnya. Oleh karena itu pabrik baterai kendaraan listrik milik HKML Battery Indonesia nantinya hanya boleh melakukan impor bahan baku selama 2 tahun saja.

"Ini 2 tahun pertama kita izinkan impor bahan baku, selanjutnya akan ambil bahan bakunya dari dalam negeri," tuturnya.

Bahlil menerangkan proyek investasi baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai US$ 9,8 miliar tujuan utamanya adalah hilirisasi dari produk nikel Indonesia.

Proyek ini digarap oleh konsorsium Korsel yang terdiri dari Hyundai Motor Company, KIA Corporation, Hyundai Mobil, dan LG Energy Solution, serta konsorsium perusahaan RI yang terdiri dari Inalum, Antam, Pertamina, PLN, dan Contemporary Amperex Technology.

"Ini konsep investasi hilirisasi yang pertama, karena tambangnya mayoritasnya BUMN, kemudian smelter dibangun di Maluku Utara, di situ ada lokasi yang dekat dengan bahan baku. Kemudian prekursor ketot 20 giga baterai cell dibangun di Batang yang lokasinya juga sudah siap, yang insyaallah kami sedang melakukan komunikasi. Ini kemungkinan besar di akhir tahun ini kita melakukan pembangunan," tutur Bahlil.

Simak Video: RI Mulai Pembangunan Pabrik Baterai Kendaraan Listrik Pertama di Asia Tenggara!

[Gambas:Video 20detik]



(das/ara)