×
Ad

Pengusaha Ungkap Biang Kerok PMI Manufaktur RI Loyo

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 01 Apr 2026 16:25 WIB
Foto: Dok. Kadin
Jakarta -

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Perindustrian, Saleh Husin, merespons penurunan PMI Manufaktur Indonesia pada bulan Maret. PMI Manufaktur Indonesia bulan Maret anjlok ke posisi 50,1 dari sebelumnya di level 53,8 pada Februari.

Menurut Saleh, penurunan ini dipicu oleh pelemahan permintaan, khususnya penurunan pesanan ekspor baru, di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Selain itu, tekanan biaya produksi akibat kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok turut menekan aktivitas industri.

"Kombinasi demand shock dan cost pressure ini membuat laju ekspansi industri melambat signifikan, mendekati batas stagnasi (level 50)," katanya dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).

Saleh memprediksi PMI Manufaktur Indonesia masih ekspansi tipis di atas level 50. Meskipun ia memperingatkan masih ada tekanan eksternal.

"Ke depan, Kami selaku WKU Kadin bidang Industri cenderung melihat PMI masih berpotensi bertahan di zona ekspansi tipis, namun sangat rentan terhadap tekanan eksternal," tambah Saleh.

Ia menjelaskan, pelemahan pesanan ekspor akan berdampak langsung pada sektor padat karya melalui penurunan utilisasi kapasitas, tekanan margin, dan potensi penyesuaian tenaga kerja.

"Maka dari itu arah dari PMI akan sangat ditentukan oleh pemulihan permintaan global, stabilitas harga energi, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam menjaga daya saing industri," ujar Saleh.

Level PMI Manufaktur Indonesia menjadi yang terendah sejak Juli 2025 atau delapan bulan terakhir. Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti mengatakan penurunan itu dipicu oleh melemahnya permintaan dan gangguan pasokan bahan baku, yang sebagian besar dipengaruhi oleh konflik di Timur Tengah.

Data survei menunjukkan bahwa volume output dan pesanan baru kembali mengalami kontraksi setelah sebelumnya sempat tumbuh.

"Menurut laporan anggota panel, salah satu faktor utama di balik penurunan pada akhir triwulan pertama adalah pecahnya perang di Timur Tengah," kata Bhatti dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4).

Lihat juga Video: Mimpi Prabowo Agar Indonesia Jadi Bangsa Produsen dan Manufaktur




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork