×
Ad

RI Gandeng Swiss & Jerman Cetak SDM Industri Berstandar Global

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 21 Jul 2026 13:48 WIB
Gedung Kemenperin/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bekerja sama dengan Pemerintah Swiss dan Jerman untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) industri nasional ke tingkat global. Kerja sama tersebut dijalin melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) dengan State Secretariat for Economic Affairs (SECO) dan Swisscontact serta Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH.

Kolaborasi ini akan difokuskan untuk mengakselerasi standar kompetensi SDM industri nasional melalui pendidikan vokasi sekaligus memperkokoh rekam jejak kemitraan strategis Indonesia yang telah terbangun lama. Hubungan diplomatik Indonesia dan Swiss sendiri telah terjalin sejak 1951, sementara hubungan bilateral dengan Jerman terjalin sejak 1952.

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan transformasi digital, pesatnya perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, transisi ekonomi hijau, hingga dinamika rantai pasok global menuntut SDM yang adaptif, inovatif, serta berkarakter pembelajar.

"Karena itu, penguatan pendidikan dan pelatihan vokasi menjadi prioritas nasional dan merupakan fondasi utama pembangunan SDM industri," ungkap Agus dalam keterangan tertulis, Selasa (21/7/2026).

BPSDMI sendiri diketahui telah menggandeng kedua negara mitra ini sejak 2018. Kerja sama tersebut diwujudkan melalui program Skills for Competitiveness (S4C) bersama SECO dan dukungan GIZ Jerman dalam reformasi sistem pendidikan dan pelatihan vokasi (TVET System Reform) di Indonesia.

Komitmen jangka panjang ini kini berlanjut melalui program S4C Fase 2 bersama Swisscontact, serta program Green Jobs for Social Inclusion and Sustainable Transformation (GESIT) pendampingan GIZ. BPSDMI bersama Swiss dan Jerman juga resmi menggelar National Dual Vocational Education and Training (DVET) 2026 pada Selasa-Kamis, 21-23 Juli 2026 di Jakarta.

Kepala BPSDMI, Doddy Rahadi, mengatakan beberapa tahun terakhir kolaborasi strategis antar negara ini berdampak nyata bagi ekosistem pendidikan vokasi industri. Dampak positif ini mencakup hibah peralatan praktik modern di unit pendidikan, peningkatan kapasitas tenaga pendidik dan peserta didik, hingga penguatan kelembagaan dan perangkat sesuai dengan standar manufaktur terkini.

"Yang tidak kalah penting, kita berhasil membangun sebuah budaya baru, yaitu budaya kolaborasi. Sekolah dan industri tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri; keduanya harus menjadi mitra yang setara dalam mencetak talenta masa depan," ujar Doddy.

Dalam kesempatan yang sama, Head of Cooperation SECO, Violette Ruppanner, berkomitmen memperkuat ekosistem vokasi Indonesia. Ia menegaskan, investasi pada keterampilan setara dengan berinvestasi pada manusia, bisnis, dan daya saing ekonomi.

"Sepanjang kemitraan ini, kita memiliki satu ambisi sederhana: mendekatkan dunia pendidikan dan industri. Ketika perusahaan aktif membantu menyusun kurikulum, menyediakan magang terstruktur, dan berinvestasi pada talenta masa depan, semua pihak akan diuntungkan," tegas Violette.

Sementara Deputy Country Director GIZ, Shameer Khanal, turut menyoroti pentingnya fokus pada peningkatan kualitas SDM untuk mendukung perubahan industri. Menurutnya, transisi industri hijau tidak dapat berhasil tanpa tenaga kerja yang terampil.

"Kegiatan hari ini adalah tentang berinvestasi pada manusia. Sebab, tidak ada transisi hijau yang dapat berhasil tanpa tenaga kerja yang dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan yang tepat. Hal ini mencerminkan keyakinan bersama kita bahwa transformasi yang sukses hanya dapat dicapai melalui kemitraan," kata Shameer.

Simak juga Video: Yang Disampaikan Prabowo Saat Bertemu Presiden Jerman




(ahi/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork