Petani tebu yang tergabung, Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) mendesak pemerintah agar segera menetapkan kenaikan Harga Pokok Penjualan (HPP) gula petani menjadi Rp 16.875 per kilogram (kg). Hal ini menyusul anjloknya harga lelang gula, rendahnya rendemen tebu di pabrik gula, serta turunnya produksi.
Ketua Umum DPN APTRI, Soemitro Samadikoen, mengatakan pemerintah perlu segera mengeluarkan keputusan kenaikan HPP karena musim giling telah berlangsung sekitar tiga bulan. Sementara biaya produksi terus meningkat dan HPP belum pernah disesuaikan sejak 2024. Kondisi tersebut semakin membuat petani tertekan pada musim giling 2026.
"Kami mengusulkan HPP gula petani tahun 2026 sebesar Rp 16.875 per kilogram. Sudah tiga tahun HPP tidak naik, padahal biaya pokok produksi terus meningkat, mulai dari pupuk non-subsidi, upah tenaga kerja, sewa lahan hingga transportasi. Di sisi lain, produksi tebu petani juga mengalami penurunan akibat kekeringan," ujar Soemitro dalam keterangan, Jumat (31/7/2026).
Menurut Soemitro, HPP tersebut merupakan jaminan pendapatan minimal yang harus diterima petani agar usaha budidaya tebu tetap layak dan mampu mendukung target swasembada gula nasional.
Selain kenaikan HPP, pihaknya juga kembali mengusulkan agar pemerintah menghapus Harga Acuan Penjualan (HAP) atau Harga Eceran Tertinggi (HET) gula di tingkat konsumen. Kebijakan tersebut dinilai membuat harga gula petani sulit bergerak mengikuti mekanisme pasar sehingga margin keuntungan petani semakin tertekan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPN APTRI, M. Nur Khabsyin, mengungkapkan keresahan petani semakin besar karena harga lelang gula terus mengalami penurunan sejak awal musim giling.
Ia menjelaskan, pada awal musim giling Mei 2026 harga lelang gula petani masih berada di kisaran Rp 16.000 per kilogram. Namun memasuki akhir Juli, harga tersebut merosot menjadi sekitar Rp 15.300 per kilogram, bahkan di sejumlah daerah hanya mencapai Rp 15.200 per kilogram.
"Kalau kondisi ini dibiarkan dan musim giling terus berjalan, harga lelang gula petani akan semakin turun. Ini yang sangat dikhawatirkan petani," kata Khabsyin.
Selain harga yang melemah, petani juga mengeluhkan rendemen tebu yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi tanaman di lapangan. Menurutnya, saat ini tebu sudah memasuki usia panen dengan kondisi kemarau yang seharusnya mampu menghasilkan rendemen lebih tinggi. Namun kenyataannya, rendemen di sejumlah pabrik gula masih berkisar 7 persen, bahkan ada yang berada di bawah angka tersebut.
"Secara objektif kondisi tebu sudah tua, sudah masak dan cuaca juga mendukung karena musim kemarau. Mestinya rendemen minimal sudah 7,5-8 persen. Kalau sekarang masih sekitar 7 persen bahkan ada yang di bawah itu, petani mempertanyakan karena dianggap tidak wajar," beber ia.
Faktor lain yang semakin membebani petani adalah penurunan produksi tebu akibat dampak El Nino dan kekeringan. APTRI memperkirakan produksi tebu petani turun sekitar 10 hingga 15% sehingga menyebabkan pendapatan petani semakin tergerus.