Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) bersama operator bandara dan pelayanan navigasi penerbangan terus melakukan pemeriksaan serta pemantauan kondisi fasilitas, personel, dan operasional penerbangan di wilayah terdampak gempa bumi di Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa, menjelaskan berdasarkan informasi Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) BMKG, gempa utama tercatat dengan magnitudo 7,0 pada pukul 05.58 WITA sekitar 38 km timur laut Mbay, Nagekeo, dengan kedalaman 10 km.
Selain itu, tercatat juga gempa dengan kekuatan magnitudo 6,2 terjadi pada pukul 06.13 WITA yang berpusat di laut sekitar 46 km timur laut Labuan Bajo, pada kedalaman 10 km.
5 Bandara Terdampak:
1. Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo;
2. Bandar Udara H. Hasan Aroeboesman, Ende;
3. Bandar Udara Umbu Mehang Kunda, Waingapu;
4. Bandar Udara Frans Sales Lega, Ruteng;
5. Bandar Udara Soa, Bajawa.
"Kerusakan yang dilaporkan antara lain berupa kerusakan dan retakan pada bangunan terminal, gedung administrasi, gedung PKP-PK, serta fasilitas pendukung lainnya," kata Lukman dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (18/8/2026).
Secara rinci ia menjelaskan di Bandar Udara Soa berdasarkan laporan awal tercatat usakan sedang terjadi pada landasan pacu (runway) dan sejumlah bangunan serta fasilitas pendukung, termasuk adanya retakan baru di beberapa titik.
Sementara itu, pada aspek pelayanan navigasi penerbangan, terdapat unit pelayanan yang terdampak, yaitu Cabang Pembantu Labuan Bajo, Cabang Pembantu Ende, Unit Maumere, Unit Bajawa, dan Unit Ruteng.
"Seluruh personel penyelenggara pelayanan navigasi penerbangan di lokasi yang terdampak dilaporkan dalam kondisi selamat," paparnya.
Pada sejumlah lokasi, khususnya yang mengalami kerusakan pada gedung tower, pelayanan navigasi untuk sementara waktu dilaksanakan dari lokasi yang dinilai aman. Contingency plan juga sudah disiapkan untuk memastikan keselamatan dan keberlangsungan pelayanan navigasi penerbangan.
Kemudian pemeriksaan kondisi fasilitas dan infrastruktur bandaran serta fasilitas navigasi penerbangan juga terus dilakukan. Bahkan untuk kesiapan pengiriman bantuan ke masyarakat dilakukan dengan skema Get Airport Ready for Disaster (GARD).
"Ditjen Perhubungan Udara menempatkan aspek keselamatan penerbangan sebagai prioritas utama," tegasnya.
Sementara terkait dengan perkembangan operasional penerbangan, ia mengimbau agar para pengguna jasa transportasi udara di wilayah terdampak tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari pengelola bandar udara serta maskapai penerbangan.
"Ditjen Perhubungan Udara akan terus memonitor perkembangan situasi dan melakukan koordinasi dengan seluruh pihak terkait. Informasi mengenai kondisi bandar udara, pelayanan navigasi penerbangan, serta perkembangan operasional penerbangan akan disampaikan lebih lanjut setelah hasil pemeriksaan dan asesmen terbaru diterima," pungkas Lukman.
(igo/ara)