Disindir Gubernur BI soal Bunga Kredit Selangit, Ini Kata Bos BRI

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 25 Feb 2021 12:10 WIB
Direktur Utama BRI Sunarso
Direktur Utama BRI Sunarso/Foto: BRI
Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo beberapa hari yang lalu sempat menyinggung bank-bank BUMN yang masih menerapkan bunga kredit yang tinggi. Padahal suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate terus diturunkan hingga saat ini di level 3,5%.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Sunarso memandang pernyataan Perry untuk menumbuhkan ekonomi dengan mendorong pertumbuhan kredit.

"Sasarannya adalah menumbuhkan GDP, menumbuhkan ekonomi, salah satunya dengan menumbuhkan kredit," tuturnya dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2021, Kamis (25/2/2021).

Sunarso membenarkan, salah satu upaya untuk menumbuhkan kredit adalah menurunkan suku bunga kredit. Namun menurutnya itu hanya salah satu cara untuk menumbuhkan kredit,

"Untuk menumbuhkan kredit itu salah satunya memang dengan menurunkan suku bunga. Tapi masih ada salah dua salah tiga dan lain-lain yang perlu dioskrestasi," tambahnya.

Oleh karena itu, Sunarso menilai jika ingin menumbuhkan kredit perlu juga mendorong faktor lainnya selain menurunkan suku bunga kredit di perbankan.

"Jadi kata kuncinya adalah mengoskrestasi semua faktor, semua variabel yang bisa mendorong pertumbuhan kredit yang bisa mendorong pertumbuhan kredit," ucapnya.

Simak juga video 'BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Jadi 5% di 2021':

[Gambas:Video 20detik]



Berlanjut ke halaman berikutnya.

Sebelumnya Perry menyinggung bunga kredit perbankan yang masih tinggi. Padahal BI sudah jauh menurunkan suku bunga acuan BI 7 day reverse repo rate.

"Penurunan suku bunga kebijakan moneter dan longgarnya likuiditas mendorong suku bunga terus menurun, meskipun penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong," kata Perry dalam pengumuman hasil RDG Bulanan secara virtual, Kamis (18/2/2021).

Perry menjelaskan sepanjang 2020 suku bunga acuan BI sudah turun sebanyak 125 bps dan mendorong rendahnya rata-rata suku bunga PUAB overnight sekitar 3,04%. Suku bunga deposito 1 bulan juga telah menurun sebesar 181 bps ke level 4,27% pada Desember 2020.

Namun demikian, penurunan suku bunga kredit masih cenderung terbatas, yaitu hanya sebesar 83 bps ke level 9,70% selama tahun 2020. Menurut Perry lambatnya penurunan suku bunga kredit disebabkan masih tingginya suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan.

"Selama tahun 2020, di tengah penurunan suku bunga kebijakan BI7DRR dan deposito 1 bulan, SBDK perbankan baru turun sebesar 75 bps menjadi 10,11%. Hal ini menyebabkan tingginya spread SBDK dengan suku bunga BI7DRR dan deposito 1 bulan masing-masing sebesar 6,36% dan 5,84%," terangnya.

Nah dari kelompok perbankan yang ada ternyata SBDK yang paling tinggi ada di bank-bank BUMN sebesar 10,79%. Kemudian diikuti oleh BPD 9,80%, bank umum swasta nasional 9,67%. Sementara SBDK paling rendah adalah kantor cabang bank asing 6,17%.

(das/ara)