Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkap sedikitnya 12 negara akan mencari pinjaman baru untuk meredam lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok akibat perang di Timur Tengah. Kondisi itu menandakan semakin dalamnya tekanan krisis global.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan dampak perang dapat memicu pinjaman baru sebesar US$ 20-50 miliar atau setara Rp 343 triliun hingga Rp 859 triliun (kurs Rp 17.181).
"Gangguan akibat perang dapat memicu permintaan dukungan keuangan baru sebesar US$ 20 miliar hingga US$ 50 miliar yang dapat mencakup pinjaman baru maupun tambahan dari program yang sudah berjalan," ujar Georgieva dikutip dari Reuters, Jumat (17/4/2026).
Georgieva menyebut beberapa negara Afrika sub-Sahara telah mulai meminta bantuan. Hanya saja ia tidak menyebutkan secara rinci negara-negara mana yang meminta bantuan tersebut.
Khusus Mesir, IMF mengaku saat ini belum membahas tambahan program pinjaman senilai US$ 8 miliar meskipun perang telah berdampak pada perekonomiannya.
Kepala Strategi IMF, Christian Mummsen mengatakan angka kebutuhan pinjaman tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi meningkat setelah dilakukan pertemuan bilateral dengan pejabat keuangan dari negara-negara anggota IMF.
"Ini masih bersifat sementara. Kami masih melakukan evaluasi," tutur Mummsen.
IMF memperingatkan bahwa dampak perang tidak akan mereda dalam waktu dekat, bahkan jika konflik berakhir cepat. Salah satu faktor utamanya adalah terganggunya jalur distribusi energi akibat penutupan Selat Hormuz.
"Kita perlu bersiap bahwa dampak gangguan pasokan dalam beberapa minggu mendatang akan lebih dalam," imbuhnya.
Akibat itu, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan berada di level 3,1% pada 2026, turun 0,2 poin persentase dari perkiraan sebelumnya. Inflasi global juga diperkirakan akan meningkat menjadi 4,4% tahun ini.
Dalam skenario yang lebih parah jika konflik AS-Iran berlangsung lama, IMF memperkirakan harga minyak dan gas alam bisa mencapai US$ 100 per barel. Jika demikian, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya akan mencapai 2,5% tahun ini.
"Dalam skenario terburuknya, konflik yang lebih dalam dan lama bisa membuat pertumbuhan ekonomi global turun menjadi 2% hingga ke ambang resesi global," imbuhnya.
(aid/fdl)