Kiat Investasi Anti Boncos saat Pasar Kena Sentimen Rusia vs Ukraina

ADVERTISEMENT

Kiat Investasi Anti Boncos saat Pasar Kena Sentimen Rusia vs Ukraina

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 25 Feb 2022 19:00 WIB
Ilustrasi Investasi
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Pasar keuangan berdarah-darah saat Rusia menginvasi Ukraina. Pasar saham sejak kemarin hingga hari ini masih diterpa koreksi luar biasa. Hanya pasar komoditas seperti emas yang menguat.

Bagaimana cara untuk mengamankan portofolio di tengah ketegangan geopolitik dunia ini?

Perencana keuangan dari Tatadana Consulting, Tejasari menyarankan bagi yang memiliki portofolio banyak di saham lebih baik dipindahkan ke perusahaan dengan fundamental baik.

"Balik aja dulu ke industri-industri dasar. Artinya pindahkan ke produk yang lebih aman. Kalau sekarang minyak dan batu bara berdampak, pindah dulu ke industri lainnya," jelasnya kepada detikcom, Jumat (25/2/2022).

Tips berikutnya, bisa pindahkan aset ke komoditas yang saat ini tergolong aman seperti emas dan obligasi. "Apa lagi obligasi pemerintah ya, itu aman. Toh kalau kita taruh di obligasi pemerintah juga akan yang menjamin pemerintah," lanjutnya.

Tejasari juga mewanti-wanti para trader agar tidak lengah, lebih baik dijual lebih cepat sebelum kerugian semakin dalam. Dia juga bilang jangan investasi di bitcoin untuk saat ini. Sebab, aset digital itu juga rentan dengan informasi global seperti saat ini.

"Mungkin yang paling khawatir sekarang trading forex ya. Soalnya pengaruhnya ke global, apalagi yang mainnya dolar atau euro kan terpengaruh itu pasti. Nai turunnya akan berisiko. Itu juga bisa disetop dulu," jelasnya.

"Bitcoin sebenarnya risikonya tinggi karena sensitif sekali dengan informasi dari luar. Artinya kalau untuk beli ya tunggu sampai benar-benar jatuh aja. Ini untuk investor yang agresif, berani. Kalau untuk jual-beli-jual-beli lebih baik hati-hati," tutupnya

Sementara Perencana keuangan dari Advisors Alliance Group Indonesia, Andy Nugroho mengatakan, untuk investor di pasar saham mesti tahu terlebih dahulu apa tujuan dari investasinya. Ia memberikan saran kepada investasi jangka panjang, pendek atau memilih untuk safe haven.

Untuk investor saham dan tujuannya untuk jangka panjang atau dividen, maka disarankan untuk tidak menjual. Menurutnya saat harga anjlok adalah waktu yang tepat untuk membeli lagi.

"Kalau kita berinvestasi di pasar saham misalnya tujuannya mendapatkan dividen ya sudah antepin aja saham ada di situ. Malah justru sekarang lagi anjlok itukan kesempatan kita untuk top up lagi. Sehingga ketika pembagian dividen bisa dapat lebih banyak lagi karena saham kita lebih banyak," ujarnya.

Kedua, untuk investor saham trading atau jangka pendek, jika sudah lebih dari 3-5% maka disarankan untuk dijual.

"Daripada ruginya semakin besar. Keluar dulu aja dari pasar saham dipindahkan ke instrumen yang lebih aman. Seperti apa? Logam mulia. Logam mulia ini justru lagi naik, itu baik sebagai nilai lindung," ucapnya.

Kemudian, kepada trader atau investor yang fokus dengan trading disarankan jangan gengsi untuk memindahkan terlebih dahulu asetnya. Artinya cara mengatur keuangan memang harus diperhatikan saat ini.

"Pindah ke obligasi atau deposito jangan merasa turun derajat dengan kondisi tersebut. Justru kita melakukan tindakan untuk mengamankan nilai. Pilihan selanjutnya ke obligasi ritel dibandingkan ke deposito. Deposito aman tetapi imbal baliknya lebih rendah dibandingkan yang lainnya," ucapnya.

Lalu, ia juga menyarankan agar menghindari FOMO (Fear of Missing Out-red) dalam berinvestasi di pasar saham. "Tiba-tiba nanti ada stock yang naik ramai-ramai ke sana. Jangan," ujarnya.



Simak Video "Gesture Jokowi Saat Tahu Izin Investasi di RI Berbulan-bulan"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT