Saatnya Jadi Bos

Satpam Banting Setir Jual Bibit Sayuran Modal Rp 500 Ribu, Mau Coba?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Jumat, 15 Jan 2021 16:38 WIB
Satpam Banting Setir Jual Bibit Sayuran Modal Rp 500 Ribu, Mau Ikutan?
Foto: Dok. Pribadi
Jakarta -

Keputusan Tulus Tri Budiantoro, warga Bantul, Yogyakarta untuk memilih sebagai penyedia bibit pertanian memang patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, ia berani melepas pekerjaan yang telah ia jalankan selama 7 tahun dari 2009 hingga 2016.

Saat itu ia terhitung memiliki posisi yang lumayan yakni sebagai kepala logistik di sebuah pusat pendidikan untuk satpam atau security. Tulus bercerita, dirinya mulai berkecimpung di penyedia bibit sayuran sekitar akhir tahun 2014 atau awal 2015, sebelum keluar dari tempat kerjanya.

Ketertarikannya pada sayuran karena melihat produk pangan ini permintaannya tak habis-habis. Maka dari itu, ia mulai menggeluti bidang tersebut.

Saat mulai masuk ke benih sayur, ia mulai banyak bertemu dengan kelompok tani, kios-kios penjual bibit dan lainnya. Sambil belajar, ia pun mulai mempraktikkan dan lama-lama mendapat konsumen.

Menyadari tak sanggup menjalankan dua pekerjaan sekaligus, ia memutuskan untuk serius terjun sebagai penyedia bibit sayuran di tahun 2016 dengan nama usahanya Benih Mulya.

"Saya sambil kerja, makin lama ada yang beli, makin banyak kalau saya dua kali, dua kerjaan ribet, saya harus pilih salah satu, wiraswasta atau ikut orang, saya putuskan wiraswasta. Ternyata kalau sudah terjun wiraswasta enak, bebas, mau pergi ke mana bebas," katanya kepada detikcom, Kamis (14/1/2021) kemarin.

Kisah Tulus untuk membangun bisnisnya ini cukup menginspirasi. Sebab, ia membangun bisnisnya dengan modal tak sampai Rp 500 ribu.

Modal itu sebagian besar ia gunakan untuk membeli plastik untuk pelindung atau atap. Ia tak begitu mengingat berapa harganya, namun ia menyebut sekitar Rp 200 ribu.

Satpam Banting Setir Jual Bibit Sayuran Modal Rp 500 Ribu, Mau Ikutan?Satpam Banting Setir Jual Bibit Sayuran Modal Rp 500 Ribu, Mau Ikutan? Foto: Dok. Pribadi

Sisanya, ia gunakan untuk membeli bibit tanaman yang harganya variatif. Ada yang harganya Rp 25 ribu, Rp 35 ribu, Rp 50 ribu, hingga Rp 100 ribu per pak. Per paknya memiliki berat 10 gram atau sekitar 2.000 biji.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Kemudian, peralatan lain seperti tiang penyangga atap dan tempat untuk meletakkan tanaman ia mencarinya dan tidak membeli.

"Malah hampir nggak ada Rp 500 ribu, wong saya kayunya nggak beli, cari sendiri, bikin kotak-kotak, cagak-cagak, di kampung, kalau bambu bisa minta to? Belinya cuma atap plastik itu aja murah, Rp 200 ribu kalau nggak salah. Bibitnya dulu kan kecil-kecil 1 pak-2 pak sekitar Rp 500 ribuan (modalnya)," paparnya.

Dia mengatakan, untuk menjadikannya sebagai bibit untuk dijual pun tak sulit. Mulanya, bibit ditanam dan ditutupi plastik. Setelah berkecambah, tanaman tersebut ia pindahkan ke tempat yang terbuka dengan perlindungan atap tadi. Selanjutnya, tanaman rutin disiram setiap hari. Rata-rata, bibit tanaman sayur yang ia jual berusia 21 hari.

Metode penanamannya pun dilakukan estafet atau setiap hari. Maksudnya, untuk penanaman per harinya sedikit demi sedikit, atau hanya beberapa jenis setiap harinya.

"Untuk biji saya tanam 21 hari, itu sudah siap tanam. Bibitnya estafet, jadi tiap kita bikin terus, tanam terus, jadi nggak nunggu. Sekarang berapa kotak, jadi tiap hari. kita bikin terong jenis ini, besok jenis ini," terangnya.

Bibit-bibit itu biasanya diserap atau dibeli oleh petani atau warga kampung. Dirinya juga sudah bekerja sama dengan kios-kios pertanian, sehingga orang yang berniat membeli bibit sayur cukup membelinya di kios tersebut.

Satpam Banting Setir Jual Bibit Sayuran Modal Rp 500 Ribu, Mau Ikutan?Satpam Banting Setir Jual Bibit Sayuran Modal Rp 500 Ribu, Mau Ikutan? Foto: Dok. Pribadi

Hasilnya pun lumayan. Biasanya, ia menjual bibit tanaman seharga Rp 1.000 untuk empat tanaman atau Rp 250 per tanaman jika diecer. Untuk per kotak, harganya beragam dari Rp 70 ribu, Rp 75 ribu hingga Rp 105 ribu. Tulus mengaku belum melakukan pembukuan keuagan secara baik, tapi jika diperkirakan omzetnya bisa mencapai Rp 10 juta per bulan.

"Jadi sekitar 150 kotak kurang lebih 1 bulan lebih sedikit habis. 1 kotak isinya 400 pohon. Itu kalau dibeli kotakan Rp 70 ribu, Rp 75 ribu, Rp 80 ribu, Rp 85 ribu, ada yang Rp 105 ribu, macam-macam," katanya.

"Cabai rawit Rp 70 ribu, cabai besar Rp 80 ribu, ada Rp 85 ribu, terong Rp 75 ribu, tomat Rp 105 ribu. Paling murah Rp 70 ribu kali 150 kotak," sambungnya.

Bagi Tulus, kunci utama dalam terjun bisnis adalah niat. Menurutnya, kegagalan ialah hal yang wajar dan mesti dijumpai pengusaha. Dari kegagalan itu, ia terus berupaya memperbaiki kesalahan.

"Memperbaiki kesalahan, harus punya salah, pokoknya jangan menyerah gitu. Habiskan jatah gagal kita," tutupnya.

(acd/ara)