ADVERTISEMENT

Kisah Inspiratif

Nggak Nyangka! Dulu Makan Saja Susah, Kini Jadi Orang Kaya Berharta Rp 47 T

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 08 Agu 2022 07:45 WIB
Mohed Altrad
Mohed Altrad/Foto: Dok. Forbes
Jakarta -

Menjadi orang sukses dan kaya raya tidak melulu berasal dari keturunan dan latar belakang. Semua bisa terjadi asalkan dilakukan dengan kerja keras dan melewati proses panjang, seperti yang dilakukan Mohed Altrad.

Ia dilahirman dari wanita yang diperkosa oleh pemimpin suku sebuah desa di Suriah. Ibunya bahkan meninggal saat dirinya masih balita sehingga hidup Mohed Altrad saat kecil untuk makan saja susah.

"Ibu saya dilecehkan sejak usia 12 tahun dan diperkosa dua kali oleh kepala suku. Pertama kali, dia melahirkan saudara laki-laki saya, yang kemudian dibunuh. Yang kedua kalinya, itu aku yang dilahirkan ke dunia ini," kata Mohed Altrad dikutip dari global-citizen.com yang ditulis Senin (8/8/2022).

Siapa sangka kerja keras yang dijalankannya membuah hasil. Mohed Altrad kini merupakan salah satu pengusaha imigran sukses yang memiliki harta US$ 3,2 miliar atau setara Rp 47,60 triliun (kurs Rp 14.874) berdasarkan Forbes.

Mohed Altrad membangun kerajaan bisnis bernilai miliaran dolar. Bisnisnya pun mengantarkan dirinya mendapat julukan sebagai pengusaha terbaik di dunia pada 2016.

Alih-alih menjalani kehidupan keras di tangan ayahnya yang kejam, Mohed Altrad harus kerja keras banting tulang untuk mengubah nasib. Kehidupan yang dijalani miliarder pemilik Altrad Group ini seperti sebuah kisah dalam novel.

Mohed Altrad bahkan tak tahu tanggal lahirnya secara pasti karena tak ada satu pun dokumen yang bisa memastikan kapan dia lahir. Kemudian dengan cara mengundi, dia pun memilih 9 Maret 1948 sebagai tanggal lahirnya.

Mohed Altrad sejak kecil memilih kabur dan tinggal bersama dengan neneknya, meski akhirnya dirinya dilarang pergi ke sekolah. Sesuai dengan adat Badui, dia harus merawat kambing, domba dan unta atau menjadi seorang penggembala.

Akhirnya, seorang kerabat jauh mengadopsi Mohed Altrad dan tinggal di dekat Raqqa, Suriah. Di sana, dia mengenyam bangku pendidikan, menyelesaikannya hingga menerima beasiswa dari pemerintah Suriah untuk belajar di luar negeri.

"Saya beruntung. Saya adalah yang pertama," tutur Mohed Altrad.

Rekam jejak Mohed Altrad di halaman berikutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT