RI Deflasi 3 Bulan Berturut-turut, Pertanda Apa?

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 01 Okt 2020 12:16 WIB
Aktivitas perdagangan terlihat menggembirakan di Pasar Senen, Jakarta, Kamis (2/11). Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Rabu (1/11) inflasi Oktober 2017 hanya sebesar 0,01 persen karena pemerintah mampu menjaga harga komoditas bahan makanan.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan telah terjadi deflasi sebesar 0,05% di September 2020. Dengan begitu, deflasi sudah terjadi tiga bulan berturut-turut atau selama kuartal III tahun ini. Apa tandanya?

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, deflasi yang terjadi selama periode Juli-Agustus-September menandakan daya beli masyarakat Indonesia sangat lemah.

"Karena terjadi deflasi berturut-turut, artinya triwulan III daya beli masih sangat rendah," kata Suhariyanto dalam video conference, Jakarta, Kamis (1/10/2020).

Berdasarkan catatan BPS, deflasi pada bulan Juli tercatat sebesar 0,10%, pada bulan Agustus deflasi sebesar 0,05%, sementara pada September deflasi 0,05%.

Dia menjelaskan, deflasi yang terjadi di September 2020 dikarenakan penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, bawang, dan beberapa jenis sayuran seperti tomat dan cabai rawit. "Di satu sisi pasokan ada, tapi daya beli kita rendah," jelasnya.

Deflasi yang terjadi berturut-turut juga pernah terjadi pada tahun 1999. Pada saat itu, deflasi terjadi selama tujuh bulan berturut-turut dari Maret hingga September.

Pria yang akrab disapa Kecuk ini mengungkapkan, pelemahan daya beli masyarakat Indonesia juga terlihat dari inflasi inti yang hanya 1,89% di September 2020. Bahkan, inflasi inti di September menjadi yang paling rendah sepanjang BPS bersama Bank Indonesia melakukan perhitungan pada tahun 2004.

"Jadi yang diwaspadai adalah inflasi inti terus menurun sejak Maret, tadi inflasi intinya 1,86% itu rendah, menunjukan daya beli kita masih sangat-sangat lemah," ungkapnya.

(hek/fdl)