Vaksin Corona Jadi Jaminan Ekonomi Bergeliat Lagi? Ini Analisisnya

Aulia Damayanti - detikFinance
Kamis, 26 Nov 2020 10:22 WIB
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination.
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Kabar efektifnya sejumlah vaksin COVID-19 membuat banyak orang optimistis bahwa pandemi akan usai. Namun, perusahaan raksasa finansial asal Amerika Serikat (AS) Citi Group mengatakan pengaruh vaksin pada perekonomian akan terlihat pada 2021.

Dikutip dari CNBC, Kamis (26/11/2020) Citi Research mengatakan pengaruh vaksin akan terlihat saat herd immunity telah terbentuk. Herd immunity adalah sistem kekebalan yang terbentuk di masyarakat setelah 70-80% anggotanya terjangkit virus. Ketika kekebalan ini terbentuk penyebaran virus corona bukan lagi ancaman.

Citi memperkirakan bahwa vaksinasi COVID-19 dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi global sebesar 0,7% pada 2021, dan 3% pada tahun 2022 karena aktivitas kembali normal.

Di antara pelopor vaksin saat ini, Pfizer-BioNTech dan Moderna melaporkan hasil awal yang menunjukkan bahwa kandidat mereka masing-masing efektif sekitar 95%. Sementara itu, Oxford AstraZeneca mengatakan analisis sementara menunjukkan vaksin mereka memiliki rata-rata kemanjuran 70%.

Tiga vaksin diprediksi akan menerima persetujuan darurat antara bulan depan dan Januari 2021 yang memungkinkan perusahaan farmasi memproduksi dan mendistribusikan vaksin. Para ekonom mengatakan negara maju telah mendapatkan pra-pemesanan vaksin dan kemungkinan mereka yang akan merasakan manfaat ekonomi dari herd immunity.

Menurut Citi, negara maju telah mengamankan 85% dari total pra-pemesanan vaksin. Negara-negara itu seperti AS, Inggris, Jepang, Kanada, Australia, dan Uni Eropa yang telah memesan pasokan yang melebihi populasi mereka.

Dengan begitu distribusi vaksin di sana akan berlangsung dari kuartal II hingga kuartal III-2021. Pada akhirnya mereka bisa membentuk herd immunity pada tiga bulan terakhir tahun 2021.

Normalisasi aktivitas ekonomi diproyeksikan akan meningkatkan pertumbuhan di negara maju sebesar 1,2% pada tahun 2021 dan 3,9% pada tahun 2022.

Namun, untuk negara berkembang peningkatan ekonomi diprediksi hanya sebesar 0,1% pada tahun 2021 dan sebesar 2% pada tahun 2022. Perkembangan yang jauh lebih lambat disebabkan negara berkembang akan lebih lama mendapatkan vaksin. Negara berkembang diproyeksi harus menunggu hingga 2022 atau lebih lama.



Simak Video "Masih Dibahas, Harga Vaksin Corona di Indonesia Belum Ditetapkan"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)