Fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal demi mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terus menggerogoti industri di Amerika Serikat (AS), salah satunya raksasa e-commerce, Amazon.
Tercatat dalam delapan bulan terakhir perusahaan telah menghabiskan dana US$ 200 miliar atau Rp 3.609,8 triliun (kurs Rp 18.049) sebagai modal investasi pengembangan pusat data AI raksasa di Seattle.
"Dilaporkan bahwa tahun ini, Amazon menghabiskan US$ 200 miliar untuk modal, sebagian besar dialokasikan untuk pusat data dan AI," kata insinyur perangkat lunak di Amazon Web Services, Patrick Schloesser, dikutip dari CNBC, Jumat (5/6/2026).
Masalahnya, suntikan dana investasi sebesar ini malah disertai dengan PHK massal yang ditujukan untuk menjaga efisiensi perusahaan. Alhasil sekitar 30.000 karyawan menjadi korban dari ambisi Amazon dalam pengembangan AI.
"Para pemimpin di perusahaan saya telah memberhentikan 30.000 karyawan perusahaan dalam delapan bulan terakhir. Hal itu menunjukkan kepada saya bahwa perusahaan teknologi besar sangat ingin membangun kapasitas komputasi sebanyak mungkin, secepat mungkin," sambungnya.
Atas dasar inilah sekelompok insinyur Amazon, termasuk Schloesser, hadir dalam sidang Dewan Kota Seattle pada Rabu (3/6) kemarin untuk menyuarakan ketidakpuasan dan penolakan mereka terhadap rencana pengembangan pusat AI di kota tersebut.
Schloesser, yang telah bekerja di Amazon selama hampir enam tahun, kemudian juga mendesak para pejabat Seattle mewajibkan pengembang pusat data AI berkomitmen menggunakan energi terbarukan untuk memasok daya ke fasilitas dan tidak lagi menggunakan perjanjian kerahasiaan atau perusahaan fiktif saat mengumumkan proyek baru.
"Anda harus menyediakan pekerjaan yang layak untuk membangun hal-hal ini, dan Anda harus membayar pajak baru yang mendanai pekerjaan kota setiap kali Anda melakukan PHK besar-besaran," kata Schloesser.
(igo/ara)