Badai kebangkrutan usaha tengah melanda Negeri Sakura, Jepang. Bahkan jumlah usaha yang bangkrut pada paruh pertama atau semester I-2026 menjadi yang tertinggi dalam 12 tahun terakhir.
Tokyo Shoko Research melaporkan hingga Juni 2026 sebanyak 5.346 perusahaan bangkrut. Jumlah usaha yang mengalami kebangkrutan ini tercatat naik 7,1% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
"Angka tersebut muncul di tengah melemahnya mata uang yen yang mempercepat inflasi, sehingga menekan keuangan bisnis, khususnya usaha kecil dan menengah," jelas Tokyo Shoko Research dalam laporannya seperti dikutip dari Japan Today, Sabtu (11/7/2026).
Utang Perusahaan
Masalahnya sekitar 90% di antara bisnis yang bangkrut merupakan usaha kecil yang mempekerjakan kurang dari 10 orang. Kebangkrutan ini turut melibatkan utang usaha setidaknya 10 juta yen atau Rp 1,11 miliar (kurs Rp 111).
Sementara perusahaan dengan kewajiban utang kurang dari 100 juta yen atau Rp 11,1 miliar mencakup hampir 80% dari total usaha yang mengalami kebangkrutan. Artinya, banyak usaha di Negeri Sakura kini tak hanya harus tutup, namun juga menjadi beban utang yang harus diselesaikan.
"Dengan kekurangan tenaga kerja yang berkepanjangan juga menjadi hambatan, laju kebangkrutan mungkin akan meningkat mulai musim gugur," kata seorang pejabat dari perusahaan riset tersebut memperingatkan.
Secara rinci, kebangkrutan usaha yang disebabkan oleh kenaikan harga meningkat 27,6% jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian kebangkrutan yang disebabkan oleh kekurangan tenaga kerja naik 37,7% sepanjang pertengahan tahun ini.
Sektor Usaha yang Bangkrut
Menurut sektor industri, jumlah usaha yang mengalami kebangkrutan meningkat di 8 dari 10 sektor. Sektor jasa memimpin dengan 1.819 kasus usaha bangkrut atau naik 7,2% dibandingkan 2025. Kemudian diikuti oleh sektor konstruksi dengan 1.026 kasus kebangkrutan.
"Restoran dan pengecer makanan paling terpukul akibat pengurangan pengeluaran konsumen, sementara bisnis semakin mencapai batas kemampuan mereka untuk membebankan kenaikan biaya kepada pelanggan melalui harga produk yang lebih tinggi," terang Tokyo Shoko Research.
Secara keseluruhan angka kebangkrutan usaha meningkat di semua sembilan wilayah Jepang kecuali Tohoku. Wilayah dengan jumlah kebangkrutan ada di Hokuriku dengan peningkatan 37,3%, diikuti oleh Hokkaido dengan kenaikan 17,1%.
(igo/ara)