×
Ad

Mendag Ungkap Biang Kerok Neraca Perdagangan RI Defisit 2 Bulan

Retno Ayuningrum - detikFinance
Kamis, 06 Agu 2026 11:44 WIB
Menteri Perdagangan Budi Santoso/Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan defisit neraca perdagangan bukan disebabkan dari pelemahan ekspor. Budi menilai kenaikan harga minyak dunia menjadi penyebab neraca perdagangan Indonesia defisit pada Mei dan Juni 2026.

Budi mengatakan nilai ekspor Januari hingga Juni 2026 masih menunjukkan tren positif. Nilai ekspor tumbuh 4,13% pada periode tersebut.

Selain itu, defisit neraca perdagangan juga menyusut. Pada Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 450 juta, turun dibandingkan Mei 2026 sebesar US$ 1,6 miliar.

"Kalau kita lihat di bulan Juni kan defisitnya sudah turun dari US$ 1,6 miliar, sekarang jadi US$ 0,45 miliar. Non migasnya naik, surplusnya ya dari US$ 2,15 miliar menjadi US$ 3,04 miliar," ujar Budi dalam unggahan di akun Instagram @budisantosoofficial, dikutip Kamis (6/8/2026).

Budi menjelaskan lonjakan harga minyak pada Maret hingga April menjadi penyebab nilai impor migas meningkat. Hal inilah yang mempengaruhi neraca perdagangan.

Defisit neraca perdagangan pada Juni 2026 disebabkan karena defisit komoditas migas sebesar US$ 3,49 miliar. Begitu pula yang terjadi pada defisit neraca perdagangan pada Mei 2026, di mana defisit komoditas migas sebesar US$ 3,75 miliar.

"Kenapa Mei itu defisit? Bulan Maret-April mulai tinggi harga minyak, ini mempengaruhi impor kita atau neraca kita pada bulan Mei," jelas Budi.

Budi menilai impor Indonesia untuk produk migas sebenarnya mengalami penurunan dari sisi jumlah. Namun, di satu sisi harga minyak dunia memang tengah meningkat sehingga berdampak pada nilai impor Indonesia.

Ia menyebut volume impor non migas mengalami penurunan dari 21,5 juta ton pada April 2026 menjadi 18 juta ton pada Mei 2026. Ia tetap optimistis kinerja ekspor Indonesia tetap tumbuh. Hal ini diperkuat dengan kerja sama dengan seluruh komponen masyarakat.

"Kalau kita lihat sebenarnya ya impornya itu turun 12%, ini impor migas. Migasnya itu dari 4,9 juta ton (pada April 2026) menjadi 4,3 juta ton (pada Mei 2026) itu kan turun, tapi kan harganya kan naik karena naik ya makanya defisit," katanya.




(rea/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork