Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun setelah penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan metodologi penghitungan free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan. Pengumuman tersebut bahkan membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah trading halt atau menghentikan sementara perdagangan saham karena IHSG anjlok 8%.
Pelemahan IHSG terjadi akibat banyak investor yang panik mendengar pengumuman tersebut. Pasalnya, terdapat sejumlah saham Indonesia berkapitalisasi besar yang masuk dalam perdagangan global indeks MSCI, di antaranya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang kemarin melemah 6,33% ke Rp 7.025 per lembar saham.
Selain BBCA, saham yang melemah dalam indeks global MSCI adalah PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) turun 15% ke harga Rp 98.600 per lembar. Melemahnya saham-saham tersebut terjadi karena ada aksi jual atau net sell.
Baca juga: IHSG Babak Belur, Purbaya: Good Time to Buy! |
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan panic selling terjadi karena pembekuan rebalancing atau penyesuaian kembali komposisi saham Indonesia bulan Februari di MSCI. Pembekuan rebalancing ini berlaku hingga Mei mendatang.
"Apa yang terjadi hari ini memang ada, menurut saya panic selling karena dua hal yang disampaikan yang jadi concern adalah, pertama untuk di bulan Februari rebalance-nya di-freeze. Jadi, kalau kita terjemahkan apa yang disampaikan tidak ada penambahan atau pengurangan konstituen perusahaan tercatat kita di MSCI," ungkap Iman di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Rabu (28/1/2026).
Selain itu, MSCI juga akan menurunkan peringkat BEI menjadi Frontier Market dari posisi saat ini dalam kategori Emerging Market. Keputusan ini akan ditetapkan jika perbaikan tidak kunjung dilakukan BEI hingga Mei mendatang.
"Artinya, kita mungkin sejajar dengan Vietnam dan Filipina. Kalau kita sekarang kan di emerging market sama dengan Malaysia," jelasnya.
(ahi/ara)