×
Ad

OJK Ungkap Biang Kerok IHSG Anjlok hingga 16%

Andi Hidayat - detikFinance
Kamis, 02 Apr 2026 16:39 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi. Foto: Andi Hidayat
Jakarta -

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sepanjang tahun 2026 sebesar 16,91%. Kemudian saat ini, IHSG sendiri terkoreksi lebih dari 2% ke level 7.029.85 jelang penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi menjelaskan koreksi terhadap IHSG terjadi akibat sentimen geopolitik di Timur Tengah. Ia mengatakan, kondisi Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran investor akibat terganggunya pasokan dan kenaikan harga energi.

"Ini tidak terlepas dan seiring dengan eskalasi ketegangan geopolitik, terutama di kawasan Timur Tengah yang menuju disrupsi pasokan energi dan menimbulkan kenaikan harga energi secara global. Dampaknya langsung diterasakan di pasar modal kita, per 1 April 2026 kemarin IHSG tercatat ditutup pada level 7.184,44 atau telah mengalami koreksi sebesar 16,91% year to date," ungkap Hasan dalam acara Sosialisasi Capaian Reformasi Transparansi Pasar Modal di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Hasan mengatakan, persentase penurunan IHSG paling besar terjadi sepanjang bulan Maret kemarin. Namun ia menegaskan, pelemahan IHSG terjadi karena kondisi domestik dan akumulasi sentimen geopolitik menyusul terbatasnya ruang pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal.

Namun ia menyebut pasar keuangan domestik masih menunjukkan pertumbuhan yang baik meski mengalami terkoreksi. Rata-rata nilai transaksi harian IHSG sendiri berada di angka Rp 20,66 triliun di bulan Maret kemarin.

"Meskipun dalam beberapa hari terakhir, tadi juga kami perhatikan, termasuk hari ini terjadi moderasi nilai transaksi harian. Tentu di satu sisi kami melihatnya ini juga boleh jadi sinyal positif. Artinya tidak lagi ada reaksi berlebihan dari investor menyikapi perkembangan pasar," jelasnya.

Kemudian aktivitas transaksi di reksadana, terang Hasan, tercatat sebesar Rp 695,71 triliun hingga akhir Maret 2026. Angka tersebut tercatat tumbuh positif hingga 3,02% sepanjang tahun 2026.

Hasan menambahkan, dana penghimpunan dari korporasi di pasar modal hingga Maret 2026 mencapai Rp 51,96 triliun. Adapun saat ini, terdapat satu calon perusahaan tercatat yang akan melakukan initial public offering (IPO) dalam waktu dekat.

Selain itu, tercatat sebanyak enam emisi penawaran dan penawaran berkelanjutan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) sebanyak 36 emisi. Hasan berharap, pasar keuangan RI bisa terus terjaga di tengah tekanan domestik dan global.

"Di tengah kondisi seperti ini, ternyata kepercayaan investor yang mewakilkan pengelolaan datanya kepada manajer investasi masih kuat dan meningkat," ungkapnya.

"Kami di OJK tentu bersama kita semua, para pelaku dan stakeholders di industri, bisa melihat bahwa tekanan yang terjadi memang lebih diaktifkan dari faktor-faktor domestik dan ekstremal di luar kondisi pasar kita. Sementara kondisi pasar kita secara keseluruhan kita harapkan tetap bisa terjaga," pungkasnya.

Lihat juga Video: 3 Faktor Utama Penyebab IHSG Bergejolak




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork