×
Ad

Rupiah Keok Dihantam Dolar AS, Purbaya: Bukan Tanda Memburuknya Ekonomi

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 24 Apr 2026 17:16 WIB
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa / Foto: Anisa Indraini
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan itu sempat membawa mata uang Paman Sam berhasil tembus level Rp 17.300-an/US$ pada Kamis (23/4).

Purbaya mengatakan tekanan nilai tukar rupiah saat ini bukan tanda memburuknya ekonomi domestik. Dibandingkan Malaysia dan Thailand, posisi Indonesia dinilai masih lebih baik.

"Untuk saya sih ini bukan tanda pemburukan, apa, dipicu oleh memburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain, kita masih kuat bahkan dibanding Malaysia, Thailand dan lain-lain masih kuat, cuma gerakan nilai tukarnya beda kan," kata Purbaya dalam media briefing di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026).

Purbaya menilai pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi kondisi global dan gangguan (noice) informasi yang membentuk ekspektasi negatif pasar tentang kondisi ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, tugasnya sebagai Bendahara Negara hanya ingin membereskan gangguan-gangguan itu.

"Ini kan juga terjadi noise yang seolah menggambarkan ekonomi kita sedang menuju keterpurukan dalam beberapa bulan ke depan. Mereka bilang kan tiga bulan waktu itu kan, berarti dua bulan lagi, Juni, Juli, tetapi keadaannya nggak seperti itu," jelas Purbaya.

"Yang jelas fondasi ekonomi kita tidak berubah, bahkan akan semakin cepat karena kita akan semakin serius perbaiki kendala-kendala di perekonomian," tambahnya.

Lebih lanjutnya, Purbaya menyerahkan kepada Bank Indonesia (BI) untuk melakukan upaya-upaya demi menstabilkan nilai tukar rupiah. "Kita serahkan ini ke pengelola-pengelolanya, regulatornya yang kita anggap mampu untuk mengendalikan," tambahnya.

Purbaya pun membantah informasi yang beredar jika rupiah sengaja dilemahkan. Seperti diketahui, ada beberapa kasus dimana satu negara melemahkan nilai tukar agar bisa bersaing.

"Saya bilang nggak begitu. Ini kita jalankan sesuai dengan fundamental yang ada. Tetapi dalam jangka pendek kan ada negatif sentimen ketika itu. Ekspektasi negatif terbentuk karena banyak yang bilang kita akan jatuh, rupiah akan menuju level yang lebih lemah lagi," imbuh Purbaya.




(aid/fdl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork