Nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dari akhir tahun 2025 hingga pertengahan Juni 2026, rupiah mengalami pelemahan sekitar 6%.
Kondisi ini dinilai menjadi salah satu pertimbangan sebagian investor untuk melakukan diversifikasi investasinya pada instrumen dolar AS. Hal ini salah satunya terlihat dari peningkatan dana kelolaan reksa dana lokal dengan denominasi dolar AS secara year to date mengalami peningkatan sebesar US$ 388 juta secara industri (13% ytd).
PT Sucorinvest Asset Management (Sucor AM) menilai, pergerakan nilai tukar tersebut dipengaruhi oleh berbagai sentimen global dan domestik, mulai dari sikap wait and see terhadap pasar negara berkembang, arus keluar dana asing di pasar saham dan obligasi Indonesia, hingga arah kebijakan bank sentral global yang dinilai beberapa pihak berpotensi hawkish.
Direktur Investasi Sucor AM Dimas Yusuf, dalam kondisi pasar yang masih dibayangi volatilitas global, diversifikasi menjadi salah satu strategi penting bagi investor.
"Dalam jangka panjang, kami memandang investasi pada instrumen berdenominasi dolar AS tetap relevan karena dapat membantu investor meningkatkan diversifikasi portofolio investasinya dari sisi nilai tukar. Sehingga ketika salah satu nilai tukar mengalami tekanan, portofolio pada dolar AS berpotensi menjadi penyeimbang risiko," katanya dalam keterangan tertulis, Kamis (2/7/2026).
Untuk investor dengan profil risiko konservatif atau kebutuhan investasi jangka pendek, reksa dana pasar uang USD dinilai dapat menjadi pilihan karena menawarkan likuiditas yang relatif tinggi dengan risiko yang terukur. Sementara itu, bagi investor dengan profil risiko lebih agresif, reksa dana campuran maupun reksa dana saham global dapat menjadi alternatif untuk memperoleh potensi pertumbuhan yang lebih optimal.
"Ke depannya, volatilitas pasar diperkirakan masih akan membayangi pergerakan aset global. Karena itu, kami menerapkan strategi pengelolaan aktif melalui manajemen durasi, pemilihan underlying asset berkualitas secara selektif, serta menjaga porsi likuiditas yang memadai untuk mengoptimalkan kinerja reksa dana," tambah Dimas.
Strategi pengelolaan aktif tersebut tercermin pada kinerja sejumlah produk reksa dana USD kelolaan Sucor AM. Per 19 Juni 2026, beberapa produk reksa dana USD kelolaan Sucor AM mencatatkan kinerja yang beragam, di antaranya Sucorinvest Global Equity Sharia Fund (SGESU) dengan kinerja YTD sebesar 9,37% dan Sucorinvest Money Market USD (SMMUSD) sebesar 1,66%.
Meski demikian, dengan kondisi pasar yang masih dinamis, pihaknya menilai investor tetap perlu mencermati berbagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan pasar ke depan, seperti arah kebijakan suku bunga acuan domestik maupun global, dinamika geopolitik, data-data ekonomi, serta implementasi kebijakan pemerintah untuk stabilitas fiskal.
Simak Video "Belajar Investasi dari Semut"
(acd/acd)