×
Ad

Terkuak Biang Kerok Dolar AS Sempat Tekuk Rupiah ke Rp 18.000

Retno Ayuningrum - detikFinance
Rabu, 08 Jul 2026 09:00 WIB
Foto: Andhika Prasetia/detikFoto
Jakarta -

Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp 18.000/dolar Amerika Serikat (AS) menjelang penutupan perdagangan pada Senin (6/7/2026).

Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan mata uang Garuda ini tak lepas dari dinamika global, termasuk sinyal hawkish dari pejabat The Fed yang membuat indeks dolar (DXY) melonjak ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso mengatakan Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga federal funds di 3,5% hingga 3,75% pada 17 Juni lalu. Namun, pelaku pasar melihat adanya pejabat The Fed mengirimkan sinyal kuat bahwa suku bunga acuan masih terus naik ke depan.

"Jadi, sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang, terutama tahun ini, yang memang probability-nya adalah tidak lagi turun tetapi akan naik," ujar Ramdan di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).

Ramdan menjelaskan perkembangan ini yang membuat indeks dolar AS terus bergejolak bahkan menembus level tertinggi dalam satu tahun. Pada Januari 2026, indeks dolar AS berada di level 95.

Namun, pada akhir Juni, DXY telah naik hingga 101. Menurutnya, hal ini yang membuat mata uang di sejumlah negara terus melemah, termasuk Indonesia.

"Jadi, kombinasi adalah signal hawkish pejabat The Fed dan juga diikuti dengan naiknya DXY pada level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah yang membuat nilai tukar sejumlah negara itu melemah terhadap US dollar," jelas Ramdan

Ia pun memaparkan data pergerakan mata uang sejak keputusan FOMC hingga 6 Juli 2026. Berdasarkan data Bloomberg pada 17 Juni hingga 6 Juli, mata uang Rusia paling lemah berada di level 5,5%.

"Jadi, kalau kita ambil posisi dari FOMC itu tanggal 17 Juni ya sampai dengan terakhir tanggal 6 Juli. Jadi, 17 Juni sampai dengan 6 Juli itu, kalau kita lihat berdasarkan data di Bloomberg adalah mata uang Rusia paling melemah dibandingkan emerging market. Jadi, Rusia melemah 5,5 persen ya," beber Ramdan.

Selain Rusia, mata uang di sejumlah negara juga menunjukkan pelemahan dibandingkan rupiah. Mata uang Thailand (baht) melemah 2,3%, Filipina (peso) melemah 1%, Korea Selatan (won) melemah 1%, India (rupee) melemah 0,7%, Chili (peso) melemah 4%. Sementara, rupiah melemah 1,4%.

"Mata uang India, Rupee juga melemah sekitar 0,7 persen. Bahkan, China, Renminbi itu melemah 0,5 persen. Jadi, kondisinya seperti itu," tambah Ramdan.

Ramdan menjelaskan BI telah melakukan sejumlah upaya demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan tetap berada di pasar selama 24 jam, baik di pasar luar negeri maupun dalam pasar dalam negeri.

Intervensi tersebut dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi di pasar spot, Non-Deliverable Forward (NDF), hingga Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga melakukan komunikasi intensif dengan para pelaku pasar.

"(Dalam) 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan bahkan akhir tahun itu kan perkembangannya tidak statis. Perkembangannya lebih dinamis. Oleh sebab itu yang saya sampaikan tadi bahwa Bank Indonesia All Out akan terus berada di pasar untuk memberikan jaminan bahwa Rupiah itu tetap akan stabil dan secara perlahan kita akan membuat Rupiah itu membangun," tambah Ramdan.

Seperti diketahui, menjelang penutupan perdagangan Senin (6/7/2026) lalu, rupiah sempat menyentuh level Rp 18.000/dolar AS. Secara intraday, mata uang Paman Sam ini sempat menguat hingga menyentuh level Rp 18.009 sekitar pukul 14.12 WIB.

Tonton juga video "Kata Menteri UMKM soal Dampak Kenaikan Dolar ke Pelaku Usaha"




(rea/hns)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork