Produksi Energi Panas Bumi Pertamina Naik Jadi 4.618,27 GWh

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Jumat, 07 Mei 2021 17:37 WIB
Operasional energi panas bumi Pertamina.
Foto: dok. Pertamina
Jakarta -

Sepanjang 2020 realisasi kinerja operasional PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) melampaui target. Selama pandemi, PGE berhasil mencatat produksi setara listrik (Electric Volume Produce-Geothermal) sebesar 4.618,27 GWh. Atau lebih tinggi 14% dari target 2020 yaitu sebesar 4.044,88 GWh.

Pencapaian PGE tersebut menyumbang 31% produksi geothermal nasional tahun 2020 yang ditetapkan Kementerian ESDM sebesar 14.774 Giga Watt Hour (GWh). Direktur Utama PGE Ahmad Yuniarto mengatakan pencapaian tersebut karena pelaksanaan operation excellence yang didukung implementasi Geothermal Integrated Management System.

Ahmad menjelaskan Area Geothermal (AG) Kamojang berhasil mencatat produksi setara listrik sebesar 1.650 GWh. Angka ini lebih tinggi 13% dari target RKAP 2020 yang sebesar 1.454 Gwh. Sedangkan AG Lahendong mencatat produksi setara listrik sebesar 828 GWh atau lebih tinggi 10% dari target yang sebesar 754 GWh.

Lalu ada AG Ulubelu yang mencatat produksi setara listrik sebesar 1.613 GWh atau lebih tinggi 21% dari target yang sebesar 1.335 GWh, serta AG Lumut Balai dengan produksi setara listrik sebesar 442 GWh atau lebih tinggi 12% dari target yang sebesar 395 GWh.


Selain menjaga pasokan listrik dari pembangkit yang telah dioperasikan, Ahmad menyebut pihaknya tengah mengkaji peningkatan kapasitas terpasang panas bumi untuk pembangkitan energi listrik dari wilayah operasi eksisting. Kajian ini akan berfokus pada Area Ulubelu (Lampung) dan Area Lahendong (Sulawesi Utara).

"PGE terus berkomitmen untuk meningkatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi (energy mix) nasional menjadi 23% pada 2025 di sektor panas bumi dengan strategi bisnis yang terukur untuk menjadi World Class Green Energy Company. Ke depannya PGE menargetkan untuk mengoperasikan PLTP dengan kapasitas own operation 1,3 Giga Watt (GW) pada 2030," kata Ahmad dalam keterangan tertulis, Jumat (7/5/2021).

Saat ini PGE sedang mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi di mana dalam wilayah kerja tersebut telah terbangkitkan listrik panas bumi sebesar 1877 MW. Jumlah tersebut terdiri dari 672 MW yang dioperasikan sendiri oleh PGE dan 1205 MW dikelola melalui Kontrak Operasi Bersama.

Menurut Ahmad, kapasitas terpasang panas bumi di Wilayah Kerja PGE tersebut telah berkontribusi hingga 88% dari total kapasitas terpasang panas bumi di Indonesia, dengan potensi pengurangan emisi CO2 sebesar sekitar 9,5 juta ton per tahun.

Ahmad menilai salah satu kunci sukses menghadapi pandemi Corona yaitu melalui penghematan anggaran biaya operasional. Dari anggaran yang sudah direncanakan, lanjutnya, PGE dapat melakukan efisiensi biaya operasi sebesar 9%

PGE juga mendukung strategi pemerintah dalam penggunaan produk-produk dalam negeri. Gune menyerap Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), Ahmad mengatakan pihaknya telah menerapkan pemanfaatan TKDN sebesar 63,39% di atas target yang hanya 25%.

Di bidang keselamatan kerja, dia menjelaskan PGE sukses mencapai 11.147.715 jam kerja selamat terhitung sejak Januari 2019. Menurutnya ini merupakan aspek krusial di bidang bisnis energi. Selain itu, PGE Area Lahendong juga mendapatkan Zero Accident (Kecelakaan Nihil) Award dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia.

Di samping itu, Ahmad memaparkan tahun lalu PGE kembali mempertahankan prestasi dalam ajang penghargaan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup (PROPER) 2020. PGE Area Kamojang - Jawa Barat berhasil meraih PROPER Emas 10 kali beruntun mulai dari tahun 2011 sampai 2020.

Tidak hanya Emas, lanjut Ahmad, PGE juga berhasil meraih 2 buah PROPER Hijau melalui Area Lahendong - Sulawesi Utara dan Ulubelu - Lampung bahkan hingga 4 kali berturut-turut dari tahun 2017. Serta PROPER Biru untuk Area Sibayak - Sumatera Utara dan Area Karaha - Jawa Barat.

Dari segi tata kelola, dia menjelaskan PGE telah memperoleh sertifikat ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) yang diberikan oleh British Standards Institution (BSI) Group Indonesia. Ahmad menyebut sertifikat ini menjadi wujud komitmen perusahaan dalam menjalankan Good Corporate Governance (GCG).

Dikatakannya, penelitian GCG PGE naik dengan predikat sangat baik dengan capaian skor 94,90 persen dari tahun 2018 dengan skor 93,88%.

(prf/hns)