×
Ad

Vietnam Krisis BBM, Sampai Minta Tolong ke Jepang dan Korea

Retno Ayuningrum - detikFinance
Kamis, 19 Mar 2026 19:15 WIB
Foto: REUTERS/Khanh Vu
Jakarta -

Dampak perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran mulai terasa. Vietnam meminta bantuan Jepang dan Korea Selatan untuk meningkatkan akses minyak mentah di tengah pasokan global terganggu akibat eskalasi di Timur Tengah.

Mengutip dari The Diplomat, Kamis (19/3/2026) Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam, Nguyen Hoang Long, mengajukan permintaan ini di sela-sela KTT Keamanan Energi di Tokyo.

Dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Urusan Internasional di Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Matsuo Takehiko, Long meminta agar Jepang dapat membantu Vietnam dalam mencari dan mengakses sumber minyak mentah guna memenuhi kebutuhan domestik. Terlebih, Jepang menjadi salah satu negara dengan cadangan minyak mentahnya yang besar.

Long juga bertemu dengan Menteri Perdagangan, Perindustrian, dan Energi Korea Selatan Kim Jung-Kwan. Dalam pertemuan tersebut, ia meminta dukungan Korea Selatan untuk membantu Vietnam mengakses sumber minyak mentah guna mempermudah impor di tengah situasi konflik di Timur Tengah.

Permintaan Long kepada kedua negara tersebut, menggambarkan dampak parah yang bisa menimpa Vietnam akibat perang Iran melawan Israel-AS yang belum ada tanda-tanda akan berakhir. Vietnam memiliki dua kilang minyak yang memenuhi sekitar 70% kebutuhan bahan bakar. Secara total, sekitar 87% impor minyak Vietnam berasal dari kawasan Timur Tengah.

Masalah ini diperparah dengan fakta bahwa cadangan penyangga minyak (petroleum buffer) Vietnam merupakan salah satu yang paling tipis di Asia Tenggara. Negara ini hanya memiliki cadangan nasional yang setara dengan 9 hari impor bersih. Angka ini jauh di bawah negara tetangga lainnya, seperti Jepang 254 hari, Korea Selatan, 208 hari, Thailand, serta Filipina 60 hari

Sebagian besar cadangan dipegang oleh perusahaan perdagangan minyak utama yang diwajibkan menjaga stok untuk 20 hari. Namun, stok tersebut lebih banyak ditujukan untuk distribusi langsung daripada penyimpanan darurat jangka panjang.

Kondisi ini membuat posisi Vietnam sangat rentan jika harga minyak terus meroket atau jalur Selat Hormuz benar-benar tertutup total. Imbasnya, situasi tersebut akan berdampak pada rencana ambisius pertumbuhan ekonomi pemerintah Vietnam.

Pada Januari lalu, pemerintah Vietnam menetapkan target pertumbuhan Produk Domestik Bruto sebesar 10% per tahun untuk periode 2026-2030. Angka ini naik dari rata-rata 5,7% pada periode 2021-2024.

Menghadapi krisis yang makin nyata di minggu ketiga perang ini, Pemerintah Vietnam langsung mengeluarkan instruksi tegas kepada rakyatnya. Warga diminta untuk lebih banyak tinggal di rumah jika tidak ada urusan mendesak. Pemerintah menyarankan agar untuk menggunakan transportasi umum, bersepeda, atau berbagi tumpangan (carpool).




(rea/fdl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork