×
Ad

Trump Naik Pitam Hadapi Iran, Harga Minyak Kembali Mendidih

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Sabtu, 16 Mei 2026 12:00 WIB
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman
Jakarta -

Harga minyak dunia kembali naik tajam setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan kesabarannya dalam menghadapi Iran mulai menipis. Bersama dengan itu, pasar minyak global juga masih dibayangi kekhawatiran terhadap serangan dan penetapan tarif di sekitar Selat Hormuz.

Mengutip CNBC, Sabtu (16/5/2026), harga minyak mentah Brent yang kerap menjadi patokan global naik lebih dari 2% menjadi US$ 108,25 per barel pada perdagangan Jumat (15/5). Sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk bulan Juni naik lebih dari 2% menjadi US$ 103,76 per barel.

Kenaikan harga ini utamanya didorong oleh sentimen pelaku pasar energi global atas pernyataan Trump kepada Fox News pada Kamis (14/5) malam waktu setempat. Ia mengaku mulai habis kesabaran karena kesepakatan penyelesaian perang antar kedua negara tak kunjung selesai.

"Saya tidak akan lebih sabar lagi. Mereka harus membuat kesepakatan," kata Trump dalam sebuah wawancara.

Bersamaan dengan itu, Trump mengatakan bahwa ia bersama Presiden China Xi Jinping telah sepakat ingin Selat Hormuz segera dibuka kembali. Bahkan menurutnya Negeri Tirai Bambu juga setuju untuk tidak lagi memberikan peralatan militer kepada Iran.

"Presiden China tidak menyukai fakta bahwa Iran mengenakan biaya tol kepada kapal-kapal yang melintasi Hormuz," kata Trump.

Dalam kesempatan terpisah, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada CNBC dalam sebuah wawancara bahwa China akan bekerja di balik layar untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.

"Sangat menguntungkan bagi mereka untuk membuka kembali selat tersebut," kata Bessent.

Di sisi lain, China tidak secara terbuka menyatakan bahwa mereka mendukung AS untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun Kementerian Luar Negeri China memberikan isyarat penggunaan kekerasan akan memberikan jalan buntu dan negosiasi merupakan pilihan yang tepat dalam penyelesaian konflik.

"Tidak ada gunanya melanjutkan konflik ini, yang seharusnya tidak terjadi sejak awal. Menemukan cara untuk menyelesaikan situasi ini secepat mungkin adalah kepentingan bukan hanya bagi AS dan Iran, tetapi juga negara-negara regional dan seluruh dunia," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China.




(igo/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork