Follow detikFinance
Senin, 04 Jun 2018 17:20 WIB

KEIN Minta Pemerintah Kembangkan Industri Antara

Muhammad Idris - detikFinance
Foto: Dok. KEIN Foto: Dok. KEIN
Jakarta - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) mendorong pemerintah untuk menjadikan pengembangan industri antara atau intermediate industry sebagai prioritas, dalam rangka mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.

Wakil Ketua KEIN, Arif Budimanta, mengatakan industri antara yang dimaksud, terutama industri-industri yang mendukung pengembangan industri prioritas, industri yang memenuhi kebutuhan dalam negeri dan penciptaan lapangan pekerjaan di dalam negeri.

"Pengembangan intermediate industry harus menjadi fokus utama pemerintah dalam rangka menguatkan fundamental ekonomi Indonesia sehingga pertumbuhan yang ditargetkan dapat tercapai," ucapnya dikutip dari keterangan tertulis, Senin (4/6/2018).

Sebagai contoh, kata Arif, komoditas yang industri antaranya masih berpotensi dikembangkan adalah kelapa sawit. Kelapa sawit memiliki beberapa produk intermediate industry, yakni olein, amino acid.


Kemudian industri antara lain seperti Palm Fatty Acid Distillate (PFAD), vitamin A, vitamin E, karoten, fatty acid, stearin, monogliseda, digliserida, trigliserida, es krim, lipase, soap chip, dan single cell protein.

Walaupun sebenarnya, berdasarkan data Kementerian Perindustrian, masih banyak produk yang belum diproduksi secara domestik yakni amino acid, PFAD, vitamin A, vitamin E, lipase, dan single cell protein.

"Ini merupakan potensi yang besar," ujarnya.

Misalnya PFAD yang merupakan bahan baku untuk sabun cuci, fat powder dan substitusi butter subtitusi.

"Konsumsi produk tersebut kan cukup tinggi di Indonesia," jelas Arif.

Pengembangan industri antara ini juga penting untuk mendorong surplusnya neraca perdagangan nasional. Sebab, mengacu pada Badan Pusat Statistik (BPS), komposisi nilai impor berdasarkan kategori barang, untuk bahan baku dan bahan penolong sangat dominan. Pada 2017, proporsinya mencapai 75% dari total impor.

Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang berkisar di atas 70%. Adapun jenis bahan penolong yang menguasai kategori bahan baku dan bahan penolong yakni makanan dan minuman (baku untuk industri), diikuti dengan bahan pasokan (baku untuk industri), dan makanan dan minuman (olahan untuk industri).

Tampak jelas, komposisi bahan baku dan bahan penolong itu sangat besar dan tentunya memberi pengaruh signifikan terhadap nilai impor.

"Jika ini bisa dikurangi dengan produksi dalam negeri tentunya akan menyehatkan neraca perdagangan Indonesia," tutur Arif.


Selain menekan nilai impor, neraca perdagangan Indonesia juga bisa diperbaiki dengan meningkatkan nilai ekspor. Berdasarkan kalkulasi KEIN, untuk mencapai target pertumbuhan sebesar 5,75% pada 2018, nilai ekspor harus mencapai Rp2.718 triliun.

Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mendongkrak nilai ekspor di antaranya dengan memaksimalkan peran kedutaan/atase perdagangan untuk membangun potensi kerja sama perdagangan.

"Untuk mencapai target pertumbuhan sesuai skenario, besaran nilai ekspor ke negara-negara mitra dagang utama Indonesia perlu ditingkatkan," ujarnya. (idr/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed