ADVERTISEMENT

Zulhas Mau Hapus DMO & DPO, Petani Curiga soal Tangki Sawit Penuh

Ilyas Fadilah - detikFinance
Minggu, 24 Jul 2022 08:30 WIB
Pekerja membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk di Mamuju Tengah , Sulawesi Barat, Rabu (11/08/2021). Harga TBS kelapa sawit tingkat petani sejak sebulan terakhir mengalami kenaikan harga dari Rp1.970 per kilogram naik menjadi Rp2.180  per kilogram disebabkan meningkatnya permintaan pasar sementara ketersediaan TBS kelapa sawit berkurang. ANTARA FOTO/ Akbar Tado/wsj.
Foto: ANTARA FOTO/AKBAR TADO
Jakarta -

Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit dianggap masih rendah. Demi mendongkrak harga TBS sawit, pemerintah melalui Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan (Zulhas) akan mempertimbangkan penghapusan Domestic Market Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO).

Meski menyambut baik rencana Zulhas, petani sawit dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyebut hal tersebut belumlah cukup. Selain DMO dan DPO, mereka menganggap Pungutan Ekspor (PE) dan Flush Out (FO) juga menjadi beban yang menghambat naiknya harga TBS.

"Apa pun resepnya, apa pun obatnya, hanya satu. Kurangi beban CPO sehingga terserap TBS nya. Apa bebannya? Ada PE, DMO, DPO, FO, mau nggak mau harus dihapus," ujar ketua umum APKASINDO Gulat Manurung kepada detikcom, dikutip Minggu Sabtu (24/7/2022).

Menurut Gulat, jika semua aturan tersebut dihapus, dalam kurun waktu 2 minggu harga TBS bisa terdongkrak. Perhitungan APKASINDO memperkirakan kenaikan harga TBS menjadi Rp 2.500/kg.

Sayangnya, harga TBS saat ini jauh dari kata cukup. TBS untuk petani swadaya berkisar antara Rp 1.250/kg, sementara petani yang bermitra adalah Rp 1.550/kg. Meski Sri Mulyani telah menghapus PE sawit hingga Agustus, sayangnya itu belum berdampak signifikan.

"Setelah PE dihapus, naik Rp 150 - Rp 300. Hitungan kami dengan dibuangnya PE, harga CPO Indonesia naik dari Rp.9000 ke Rp 12.000. Harusnya harga TBS ada di Rp 2.400," jelasnya.

Gulat mencurigai masalah lain yang membuat harga TBS masih rendah. Ia menyebut Pabrik Kelapa Sawit (PKS) kurang terbuka perihal tangki minyak yang disebut sudah penuh.

"Kami berharap pabrik kelapa sawit jangan ada dusta di antara kita. Buktinya kan CPO mereka keluar, tronton-tronton keluar," katanya menambahkan.

Ia menyebut ekspor sudah berjalan dan banyak surat persetujuan ekspor yang terbit. Ada kemungkinan perusahaan menunggu harga tinggi, sehingga menumpuk stok CPO. Akibatnya, TBS petani sawit pun dibeli dengan harga rendah.

Dalam hal ini Gulat mengharapkan keterlibatan aparat hukum memeriksa pabrik-pabrik kelapa sawit. Jangan sampai sebutan tangki minyak penuh hanya menjadi alasan demi membeli TBS sawit murah dari petani.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT