×
Ad

Purbaya Usut Modus Under Invoicing Ekspor Sawit Bareng Kejagung-BPKP

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 21 Mei 2026 17:44 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa/Foto: Herdi Alif Al Hikam/detikcom
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan pihaknya sudah membentuk tim dengan Kejaksaan Agung dan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk mengusut dugaan praktik manipulasi harga under invoicing ekspor komoditas sumber daya alam (SDA), salah satunya kelapa sawit.

Menurutnya, sejak tiga bulan lalu, Purbaya dan tim gabungan sudah menghitung potensi manipulasi harga yang terjadi pada beberapa perusahaan. Bahkan, Purbaya mengaku sudah punya data 10 besar 'pemain' kelapa sawit yang diduga melakukan under invoicing.

"Kita sudah jalan sejak 2-3 bulan lalu. Saya kan ada tim dengan Kejaksaan dengan BPPK untuk menghitung ulang nilai ekspor mereka beberapa tahun ke belakang. Kami tunggu laporan seperti apa tapi tim sudah jalan 2-3 bulan lalu," ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).

Menurutnya, data terkini soal dugaan praktik manipulasi harga itu sudah dilaporkan ke Presiden Prabowo Subianto. Kebetulan hari ini dia memang diundang untuk makan siang bersama Prabowo.

"Pokoknya (data) itu memperkuat dugaan beliau selama ini kan bahwasanya memang ada seperti itu, dan itu datanya kan sangat kuat sekali itu," kata Purbaya.

Menurutnya, bila kasus under invoicing ini terungkap dan diproses, dampaknya akan sangat bagus bagi penerimaan pajak dan kinerja ekspor.

"Dan itu dampaknya akan bagus kepada pajak, ekspor kita, dan bagi perusahaan yang listing ke bursa, itu akan berdampak ke nilai perusahaan itu, karena sebelumnya dia dimainkan pemiliknya sekarang nggak bisa dia akan masuk ke perusahaan itu ekspor itu," sebut Purbaya.

Sebelumnya, saat tiba di Istana Kepresidenan, Purbaya bilang dirinya sudah memegang data potensi under invoicing yang dilakukan oleh perusahaan kelapa sawit nasional.

Sambil membuka data yang dibawanya, di depan awak media, Purbaya memaparkan ada perusahaan yang data komoditas ekspornya selisih sampai 57-200%. Di pelabuhan Indonesia data harga ekspornya lebih kecil daripada di pelabuhan tujuannya di luar negeri.

"Ada contohnya, nggak mau sebut perusahaannya ya saya. Jadi, ada dari Indonesia dikirim harganya US$ 2,6 juta impornya di sana US$ 4,2 juta jadi 57% bedanya. Ada yang lebih gila lagi ada satu perusahaan lagi di sini ekspornya US$ 1,44 juta di sana US$ 4 jutaan berubah harga 200%," beber Purbaya.




(hal/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork