Badai Inflasi dan Bunga Tinggi Mengintai, Bos BI Pede Ekonomi RI Stabil

ADVERTISEMENT

Badai Inflasi dan Bunga Tinggi Mengintai, Bos BI Pede Ekonomi RI Stabil

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 30 Nov 2022 11:55 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Wrjiyo
Foto: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Wrjiyo (istimewa/BI)
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan saat ini perekonomian dunia termasuk Indonesia sudah berhasil melawan tekanan pandemi COVID-19 dan gejolak yang terjadi di global.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan jika Indonesia mampu bertahan dan pulih dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dibandingkan dengan negara lain.

"Kebijakan pemerintah dan BI yang kuat khususnya fiskal dan moneter ini perlu dipertahankan dan dilanjutkan untuk menghadapi gejolak global dan bangkit menuju Indonesia maju," kata Perry dalam pidatonya di PTBI, Rabu (30/11/2022).

Dia mengungkapkan memang saat ini dunia masih bergejolak dan belum diketahui kapan akan selesai. Mulai dari perang antara Ukraina dan Rusia yang tak bisa diprediksi kapan akhirnya, perang dagang AS dan China yang makin memanas, lockdown di China yang mencapai 6 bulan hingga terganggunya pasokan distribusi barang.

"Perlu diwaspadai juga risiko stagflasi dan bahkan resflasi sampai persepsi risiko investor global yang negatif," ujar dia.

Menurut Perry ada beberapa hal lagi yang perlu menjadi perhatian dalam menentukan prospek ekonomi global. Mulai dari pertumbuhan yang menurun karena risiko resesi di AS yang meningkat. Lalu inflasi yang tinggi, suku bunga tinggi.

"Fed Fund Rate bisa 5% dan tetap tinggi selama 2023, dolar AS sangat kuat strong dollar membuat tekanan depresiasi nilai tukar negara lain, termasuk terhadap rupiah," jelasnya.

Kemudian cash is the king, atau penarikan dana investor global yang mengalihkan ke aset likuid.

Karena itu perlu diperkuat sinergi dan koordinasi kebijakan pemerintah dan BI hingga Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). "Insyaallah Tuhan Menghendaki 2023-2024 dan akan menunjukkan ketahanan dan kebangkitan. Pertumbuhan ekonomi akan membaik 4,5%-5,3% pada 2023 dan meningkat 4,7%-5,5% pada 2024," ujar Perry.

Kemudian ekspor, konsumsi dan investasi yang meningkat serta hilirisasi penanaman modal sampai pariwisata. BI juga meyakini angka inflasi yang saat ini tinggi akan kembali ke sasaran 3% plus minus 1% pada 2025 dan 2,5% plus minus 1% pada 2024.

"Kenaikan terukur, stabilitas rupiah, koordinasi tim inflasi pusat gerakan nasional pengendalian inflasi pangan," ujar dia.

Lihat juga Video: Presiden Jokowi Ingin G20 Jadi Katalis Pemulihan Ekonomi

[Gambas:Video 20detik]



(kil/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT