×
Ad

Fitch & Moody's Beri Outlook Negatif, Apa Artinya Ekonomi RI Jelek?

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Sabtu, 07 Mar 2026 13:10 WIB
Fitch dan Moodys Beri Outlook Negatif, Apa Artinya Bagi Ekonomi RI? Foto: Fuad Hasim/Infografis-detikcom
Jakarta -

Keputusan dua lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings dan Moody's Investors Service, yang menurunkan outlook kredit atau prospek peringkat utang Indonesia jadi negatif memicu kekhawatiran di pasar keuangan. Meski peringkat utang Indonesia masih berada di level investment grade, perubahan outlook ini sering dianggap sebagai sinyal awal bahwa risiko terhadap perekonomian mulai meningkat.

Bagi masyarakat awam, istilah outlook negatif memang sering membingungkan. Namun dalam dunia keuangan, perubahan prospek peringkat utang biasanya menjadi peringatan dini sebelum potensi penurunan rating benar-benar terjadi. Jika skenario itu terwujud, biaya pinjaman pemerintah bisa meningkat dan kepercayaan investor berpotensi tergerus.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai perubahan outlook tersebut menjadi sinyal bahwa kondisi ekonomi Indonesia sedang mendapat sorotan serius dari lembaga pemeringkat. Ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

"Perubahan outlook rating utang RI artinya ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Yang disorot kan kemampuan negara membayar bunga utang, ada pemborosan anggaran terutama MBG. Selain itu keberadaan Danantara justru jadi beban ekonomi baru," kata Bhima kepada detikcom, Sabtu (7/3/2026).

Ia menjelaskan, perubahan outlook biasanya menjadi tahap awal sebelum peringkat kredit benar-benar diturunkan. Jika itu terjadi, konsekuensinya bukan cuma dirasakan pemerintah, tetapi juga bisa merembet ke sektor keuangan secara luas.

"Setelah perubahan outlook, biasanya ada penurunan rating. Bunga utang pemerintah makin mahal. Kalau investor sudah turun kepercayaan nya bisa krisis ekonomi," ujarnya.

Menurut Bhima, dampak dari situasi tersebut pada akhirnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama melalui biaya pinjaman yang lebih tinggi dan tekanan terhadap harga-harga.

"Bunga pinjaman bank naik, KPR mahal, mau beli motor jadi ditunda dulu. Barang lebih mahal. PHK massal, kemiskinan naik. Pemerintah makin berburu pajak di kebun binatang," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa posisi Indonesia saat ini sudah mulai memasuki fase peringatan dalam perspektif lembaga pemeringkat global. "Sudah mulai lampu kuning, karena begitu turun peringkat akan jadi obligasi sampah," tambahnya.

Dalam waktu dekat, perhatian pelaku pasar juga akan tertuju pada keputusan lembaga pemeringkat lain, yakni S&P Global Ratings, yang diperkirakan akan mengumumkan evaluasi terbaru terhadap peringkat Indonesia pada pertengahan tahun ini.

"Standard and Poors lembaga rating yang paling dinantikan, bulan Juli akan umumkan rating Indonesia. Proyeksi nya akan di downgrade. Investor asing sudah mulai mengurangi porsi kepemilikan di SBN," jelasnya.

title="Ekonomi RI Kuartal II/2023 Diprediksi Tumbuh 5,07 Persen" class="p_img_zoomin" caption="Ekonom dari Bank Mandiri memprediksi pertumbuhan ekonomi RI Kuartal II/2023 akan tumbuh lebih ekspansif. Pertumbuhan ekonomi diprediksi tumbuh 5,07 Persen." />Fitch dan Moody's Beri Wanti-wanti Ekonomi RI Foto: Ari Saputra




(fdl/fdl)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork