ADVERTISEMENT

Saatnya Jadi Bos

Iseng-iseng Bikin Patung Ikan Koi, Eh Malah Dapat Omzet Ratusan Juta

Aldiansyah Nurrahman - detikFinance
Selasa, 29 Mar 2022 07:15 WIB
Iseng-iseng Bikin Patung Koi, Eh Malah Dapat Cuan Ratusan Juta
Foto: Dok. Pribadi
Jakarta -

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan. Mungkin itu adalah kalimat yang tepat untuk menggambarkan bisnis Bilgis Fiber Galass.

Bagaimana tidak, berawal dari iseng-iseng, usaha yang didirikan Lia Maulida sekarang mempunyai omzet Rp 300 juta. Bilgis Fiber Glass merupakan kerajinan miniatur ikan koi asal Cicantayan, Sukabumi.

Selain itu, Biligis Fiber Glass juga membuat kolam ikan koi, yakni bak fiber. Setiap miniatur koi dibuat sesuai dengan detail dan spesifikasi koi asli, terutama pada motif koi yang diwarnai dengan presisi, dan menggunakan fiber glass yang seluruhnya berbahan lokal.

Lia bercerita usaha berbahan fiber sebetulnya berawal dari orang tuanya. Hanya saja saat itu produksinya diperuntukkan untuk aksesoris mobil. Namun, seiring berjalannya waktu usaha ini semakin menurun. Hingga akhirnya ia ambil alih dan diubah menjadi usaha yang identik dengan koi.

Ide koi sendiri berawal dari suaminya yang hobi memelihara ikan koi. "Dia bikin iseng-iseng, bikin miniatur ikan koi. Dari situ kita sering ikut acara-acara," kata Lia.

Pertama kali membuat patung koi ukuran yang dibuat masih ukuran kecil. Tidak seperti sekarang yang bisa sampai 2 meter. Setelah yang kecil itu dibuat, Lia memamerkannya di acara pertunjukan atau kontes koi yang ada di Sukabumi. Di acara itu pecinta koi dari berbagai kota datang. Dari situlah awal mula Bigis Fiber Glass memasarkan produknya.

Iseng-iseng Bikin Patung Koi, Eh Malah Dapat Cuan Ratusan JutaIseng-iseng Bikin Patung Koi, Eh Malah Dapat Cuan Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi

Ketika dipamerkan, beragam tanggapan diterima Lia dari para pengunjung. Ada yang berkomentar lucu, tapi ada juga yang mengkritiknya. Lia menganggap itu sebagai cambukan agar ia terus berusaha memperbaiki produknya.

"Dari situ kita revisi. Ada yang bilang kurang di siripnya, terus juga ada yang bilang kurang di ekornya," ungkap Lia.

Setelah dari Sukabumi, Bilgis Fiber Glass datang ke acara-acara lainnya di luar kota. Di situ ia kembali mendapat kritik dan masukan. Lia tidak berkecil hati, ia terus memperbaiki kualitas patungnya.

Hingga puncaknya ketika acara koi Asia Cup di BSD, Tangerang Selatan. Pecinta koi dari seluruh negara-negara Asia datang ke acara tersebut. Mereka melihat produk Bilqis Fiber Glass yang mejeng di sana.

Di acara tersebut, Bilgis Fiber Glass membuat patung koi yang benar-benar beda dari biasanya. Respon positif diterima Bilgis Fiber Glass, meski masih ada kritik dan masukan diberikan. Tapi lewat acara ini Bilgis Fiber Glass dikenal di berbagai negara, bahkan bisa ekpor ke berbagai tidak hanya ke Asia tapi juga Eropa.

Lia mengaku menargetkan konsumen dari Jepang. Pasalnya, Jepang memang identik sebagai negara yang identik dengan koi. Tapi, ternyata saat ini tidak disangka-sanga justru lebih banyak pesanan datang dari Eropa.

Produknya juga dikirim ke sejumlah negara seperti Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Jepang, Jerman, Inggris, Belgia, Ukraina, Prancis, dan negara di Afrika. Sementara untuk pasar lokal sendiri sudah ke berbagai daerah, di antaranya Papua dan Kalimantan.

Lihat juga video 'Hobi Pelihara Ikan Koi Antarkan Warga Lumajang Raup Jutaan Rupiah':

[Gambas:Video 20detik]



Lia bangun jaringan di media sosial. Cek halaman berikutnya.

Selain mengikuti acara kontes koi, Lia juga aktif memasarkan di Facebook. Ia membangun jejaring pecinta koi di berbagai negara dari media sosial pribadinya Lia Maulida (Fiber Glass Production). Dari situ juga lah ia dikenal diberbagai negara.

Konsumen Bilgis Fiber Glass yang dari luar negeri, biasanya datang dulu ke Indonesia mendatangi tempat produksi Bilgis Fiber Glass yang berada di belakang rumah Lia sebelum memesan. Lia mengungkapkan perjalanan Bilgis Fiber Glass sampai dan mempertahankan di titik ini tidaklah mudah. Ada rintangan yang dilalui.

Ketika awal-awal Bilgis Fiber Glass berdiri, saingannya hanya Taiwan yang sama-sama membuat miniatur koi dari fiber. Sementara di Jepang juga ada miniatur koi, tapi bahannya dari keramik.

Seiring berjalannya waktu sainggannya bertambah, bahkan dari dalam negeri karena Bilgis Fiber Glass tidak mendaftarkan hak cipta, usahanya dijiplak. Penjiplak ini memesan barang 1-2 miniatur koi untuk ditiru dan memasarkan ke Eropa, salah satunya Inggris.

Lia mengetahui hal itu dari agennya yang berada di Inggris. Meski begitu pelanggannya tidak mudah berpindah begitu saja. Pelanggannya itu menilai kualitas miniatur yang dibuat Bilgis Fiber Glass lebih baik.

"Itu memang patung saya, tapi dari segi pola lukis beda banget. Itu asal-asalan. Tapi mereka juga bilang ini jauh banget dari buatan saya. Alhamdulillah, kita pasrah sama Allah rezeki sudah ada yang mengatur. Biarkan saja. Yang penting dari kualitas kita jaga," tuturnya.

Pandemi OCIVD-19 juga memukul bisnisnya. Meski demikian, pesanan dari luar negeri tetap ada.

Iseng-iseng Bikin Patung Koi, Eh Malah Dapat Cuan Ratusan JutaIseng-iseng Bikin Patung Koi, Eh Malah Dapat Cuan Ratusan Juta Foto: Dok. Pribadi

Selain itu, saat pandemi juga biaya kontainer juga naik. "Misalnya saya kirim ke Belgia satu kontainer cuma US$ 3.000 sekarang hampir US$ 12.000," ungkap Lia.

Lebih lanjut, Lia bercerita, ketika Bilgis Fiber Glass memulai produksi miniatur ikan koi sekitar delapan tahun lalu, modalnya sebesar Rp 30 juta. Uang itu ia dapatkan dari pinjam di bank. Sementara omzetnya sekarang mencapai Rp 250-300 juta per bulan.

"Tergantung banyaknya dan ukuurannya untuk bak fiber. Kalau yang bulat itu 100 pieces, yang kotak paling 20 pieces, pokoknya untuk muat satu kontainer saja. Ditambah sama patung ikan sekitar 50 pieces, kalau yang kecil 500 pieces tergantung ukuran juga," terang Lia.

Mengenai harga miniatur koi, Bilgis Fiber Glass menjualnya variasi tergantung ukurannya. Paling kecil semacam gantungan kunci 10 centimeter Rp 50 ribu. Kemudian lebih besar lagi ada yang Rp 100 ribu, Rp 300 ribu, Rp 500 ribu hingga yang paling besar ukurannya 2 meter, harganya Rp 7,5 juta. Harga tersebut adalah harga lokal. Sementara jika diekspor harganya dua kali lipat dari itu.

Sementara untuk bak fiber, harganya tidak jauh beda dengan umumnya. Lia mengatakan sudah banyak penjual bak fiber.

Lia berpesan, untuk menjalankan usaha penting memerhatikan kualitas. Meski banyaknya orang menirukan usaha kita.

Tetap yang jadi pembeda adalah kualitas. Selain itu, penting juga pintar berkomunikasi. Seorang pengusaha harus bisa menyampaikan dengan baik apa yang dijualnya. Hal ini kerap kali diabaikan oleh pengusaha lain. Padahal, menurutnya, bagaimana masyarakat mau membeli jika tidak dikenalkan dengan baik.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT