Buka-bukaan Bos Bank Aladin: Cap Anak Menteri-Bangun Bank Syariah Digital RI

ADVERTISEMENT

Wawancara Khusus

Buka-bukaan Bos Bank Aladin: Cap Anak Menteri-Bangun Bank Syariah Digital RI

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 02 Feb 2022 09:02 WIB
Presdir Bank Aladin, Dyota Mahottama Marsudi
Foto: Danang Sugianto
Jakarta -

Dyota Mahottama Marsudi adalah sosok anak muda yang kini memimpin PT Bank Aladin Syariah Tbk. Namanya mulai terdengar di publik ketika bank syariah berkonsep digital pertama di RI itu mengumumkan pengangkatan dirinya pada April 2021 yang lalu.

Nama Dyota sontak menarik perhatian publik karena dirinya merupakan anak dari Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

Banyak pihak mungkin bertanya-tanya, mengapa Dyota tak mengikuti jejak ibunya sebagai diplomat? Apakah menyandang nama Marsudi memudahkannya dalam meniti karir atau malah sebaliknya?

Yang jelas Dyota menjadi Presdir Bank Aladin Syariah melalui proses fit and proper test oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK pun memberikan restu pada November 2021.

Presdir Bank Aladin, Dyota Mahottama MarsudiPresdir Bank Aladin, Dyota Mahottama Marsudi Foto: Danang Sugianto

detikcom berkesempatan berbincang-bincang dengan Dyota. Dia menegaskan bahwa Sang Ibu tidak pernah turut campur terhadap pencapaian karirnya, baik sebagai bankir maupun sebagai di dunia investasi.

Dyota juga mengungkapkan berbagai hal, mulai informasi-informasi terkini terkait Bank Aladin Syariah hingga perasaan pribadinya sebagai anak seorang menteri yang ternyata menjadi beban tersendiri dalam meniti karir.

Berikut wawancara lengkapnya:

Anda asalnya bukan bankir dan harus melalui Fit and Proper Test dari OJK untuk menjadi Presiden Direktur di Bank Aladin Syariah. Apa cerita menarik dari proses panjang tersebut?

Fit and proper tuh konteksnya confidential ya, jadi saya enggak bisa banyak cerita di situ. Ya cuma yang saya bisa ceritain adalah teman-teman OJK, teman-teman pengawas itu walaupun tugas mereka adalah regulate dan mereka strict, tapi mereka itu forward looking juga loh. Jadi mereka itu melihat ada perkembangan teknologi dan tahu bahwa ini harus di-embrace tapi juga harus di-regulate dengan benar.

Sehingga waktu saya fit and proper test itu lumayan enak gitu diskusinya. Kelihatan dari perilaku mereka. Apalagi interaksi kita sehari-hari dengan dengan OJK maupun BI mereka itu sangat welcome. Tapi mereka tetap melaksanakan tugas mereka sebagai regulator. Tujuan mereka kan jangan sampai nasabahnya yang kena gitu kan. Jadi alhamdulillah waktu itu lumayan cair dan itu menurut saya menjadi bukti bahwa eh regulator kami itu sebenarnya lumayan forward thinking loh. Mereka bisa melihat bahwa prestasi saya yang ada di bidang teknologi dan di luar bank banking itu bisa berguna di industrinya mereka, which is banking gitu.

Kenapa terjun di dunia investasi dan banking? Apakah tidak tertarik untuk mengikuti jejak Ibu Retno Marsudi?

Keluarga saya itu, keluarga yang lumayan memperbolehkan anak-anaknya membuat keputusan sendiri. Tentunya akan di-guide gitu ya. Jadi jangan hal yang bodoh gitu. Tapi dari dulu keluarga kami memang sudah beda-beda gitu. Jadi ibu saya kan sekolahnya HI jadi diplomat, bapak saya arsitek, saya akuntan secara sekolah gitu, adik saya dokter. Tidak ada yang sama.

Dari segi karir juga ya kasarnya terserah gitu. Yang penting memegang teguh prinsip. Dalam artian kita sih prinsipnya, gimana ya, we will treat people the way you want people treat it. Jadi ya pokoknya hal-hal jelek yang dilarang agama. Itu yang harus dipegang teguh. Tapi kerjaannya apa, ya terserah. Kalau misalkan lihat saya sama adik saya kan sudah jauh beda banget.

Dari dulu consulting, bikin bisnis sendiri, jadi investor itu keputusan saya terus. Tapi tentunya minta masukan sama orang tua, minta blessing sama orang tua. Boleh nggak ke sini? Ya tentunya orang tua ada nasihat-nasihat, ya kita dengerin. Tapi tetap keputusannya saya juga.

Khususnya kenapa dari investment ke banking, dari yang awalnya tinggal di Singapura balik ke Indonesia, jawabannya ada dua nih, jawabannya yang sedikit lebih personal, ada yang logis. Yang logis adalah secara logic ini merupakan industri yang sangat besar, yang sangat yang sangat under serve. Demand-nya ada, supply-nya nggak ada. Jadi itu ada opportunity. Kalau misalnya saya masuk di bank apalagi dengan support shareholder, dengan supporting yang luar biasa kuat. Itu we can actually make a difference. Kita bisa deliver suatu hal yang diinginkan sama customer tapi belum ada gitu. Ini kita industry building. Industrinya awalnya nggak ada, jadi ada.

Jadi logically kalau misalnya kita sebagai manusia diberi kesempatan untuk berkontribusi untuk membangun industri, untuk memberikan value ke sesama manusia kita, ya kita harus ambil. Kita kan dikasih kapasitas sama Tuhan kan nggak boleh tidur-tiduran ya. Itu, itu jawaban logisnya.

Jawaban personalnya, saya tuh ingin banget bikin keluarga saya bangga. Jadi se-simple itu. Saya ingin orangtua saya bangga, saya ingin istri saya bangga, saya ingin anak saya bangga, oh ayah saya itu dulu bangun bank gitu, very stupid tapi for me ngena gitu.

Dengan alasan ingin membuat bangga orang tua, tapi Anda membawa nama orang tua, apakah itu menjadi beban untuk karir Anda?

Ya semua hidup ya jadi bebanlah. Kita jadi kepala keluarga, jadi beban, kita jadi suami, atau istri jadi beban. Seluruh aspek hidup kita itu adalah beban kan. Kita jadi anak dulu juga beban. Kan maksudnya orang tua ingin kita untuk baik untuk rajin, untuk bisa jadi juara kelas.

Jadi kalau misalnya beban, ya pasti beban. Tapi harus kita lihat ini bebannya bagus atau enggak. Kasarnya ada stres bagus, ada stres jelek ya. Jadi kan ada riset di mana kalau misalnya stres jelek itu mematikan, tapi kalau stresnya bagus kita bisa manage stres kita dan kita melihat bahwa opportunity untuk kita untuk terus bertumbuh. Itu menjadi hal yang sangat baik.

Jadi kalau ditanya bebannya gede nggak? Ya gedelah. Lihat saja deh waktu saya diangkat, anak Menlu, anak Menlu, anak Menlu. Ya memang benar saya anak Menlu, fakta. Saya anak ibu saya gitu. Tapi kan saya dapat kerjaan ini kan ibu saya enggak ikut campur. At least I hope mereka ngelihat pencapaian saya sebagai individu. Tapi ya apakah saya marah, apakah ngambek ya nggak bisa juga. Memang kenyataannya kayak gitu. Headline memang harus apa menjual. Apakah saya suka ya nggak juga.

Jadi kalau beban adalah bagaimana kita mengubah beban tersebut menjadi motivasi. Itu yang pertama. Lalu yang kedua karena hubungannya nama keluarga, saya enggak mungkin melakukan suatu hal yang saya nggak berani taruh di newspaper halaman depan. Jadi saya selalu mikir oke ya kita kerjain ini kalau misalnya tiba-tiba ada wartawan tahu terus dia taruh di halaman depan majalah atau taruh di sosial media gede-gedean kita jadi malu enggak? Atau kita merasa bersalah enggak? Kalau misalnya jawabannya iya, jangan deh. Jangan dilakukan.

Karena kan sangat gampang orang nggak mau satu hal kalau misalnya nggak ketahuan. Tapi kalau ketahuan orang jadi berubah gitu. 'Oh saya khilaf', you know. Biasalah jawabannya. Nah jadi prinsip saya selalu oke kalau misalnya sampai orang tahu kita ngelakuin hal ini, kita malu nggak, kita merasa bersalah nggak? Kalau jawabannya iya, ya jangan dilakuin. tapi kalau jawabannya enggak, ya hajar.

Lihat juga Video: Anwar Abbas Khawatir Bank Syariah Indonesia Cuma Layani Perusahaan Besar

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT