Follow detikFinance
Selasa, 17 Jul 2018 23:10 WIB

Bicara Pengawasan APBN, Sri Mulyani: Saya Rindu Akademisi Memelototi

Danang Sugianto - detikFinance
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Hasan Alhabshy Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - Setelah sibuk beraktivitas sejak pagi tadi, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menutup kegiatan sepanjang Selasa (17/7/2018) dengan mengisi kuliah umum di MM UGM. Tema yang diambil adalah APBN Menjawab Tantangan Era Digital Ekonomi.

Sri Mulyani mengawali kuliah umumnya dengan menceritakan kegiatannya hari ini yang begitu padat. Maklum sejak pagi dia dua kali menghadiri rapat di DPR, Paripurna dan rapat di badan anggaran DPR.

Sorenya Sri Mulyani melantik Eselon I Kemenkeu, hingga konpers APBN, belum lagi rapat internal lainnya.


"Sejak dari jam 8 pagi saya sudah marathon rapat. Tapi saya tetap semangat untuk kuliah ini," tuturnya di Gedung MM UGM, Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Sri menjelaskan tentang pengaruh perkembangan teknologi terhadap perekonomian. Salah satu yang paling terasa dalam perkembangan ekonomi adalah peran teknologi yang mampu menggantikan manusia dari sisi kegiatan ekonomi.

"Banyak pekerjaan yang bisa digantikan dengan teknologi seperti artificial intelligence. Makanya banyak negara-negara berpendapat kalau robot bisa gantikan manusia maka robot jadi buruh. Seperti buruh manusia yang bayar pajak, jadi di masa depan robot akan bayar pajak," ujarnya.


Peran digital ekonomi menurut Ani juga mengubah kegiatan ekonomi. Dia menerangkan seperti e-commerce yang membuat transaksi jauh lebih mudah.

Manusia kini bisa membandingkan produk yang hendak dibeli dari penjual satu dan penjual lainnya dengan sangat mudah. Sehingga hal itu membuat persaingan antar pedagang semakin ketat, ujungnya harga yang didapat bisa lebih murah.

"Ini membuat kompetisi hampir sempurna. Ini bagus untuk konsumen tapi tidak dengan produsen," kata mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.


Selain itu e-commerce juta bermanfaat dalam menekan cost transaksi, sebab tidak seperti berbelanja di pasar di mana penjual dan pembeli harus bertemu di satu titik yang membutuhkan biaya perjalanan. Melalui e-commerce biaya itu tidak diperlukan.

Nah bagi pemerintah melihat hal itu sebagai peluang. Pemerintah akan mengkapitalisasi kegiatan itu untuk mendorong roda ekonomi maupun pemasukan negara.


Ani juga menilai dari e-commerce terdapat data transaksi individu yang sangat berharga. Dia menyebut data itu sebagai tambang ekonomi.

"Bayangkan kita bisa diketahui kalau beli martabak senangnya apa, beli baju modelnya seperti apa. Itu sangat valuable," tambahnya.

Ingin akademisi terlibat

Setelah berbicara panjang lebar, Sri Mulyani membuka kesempatan para peserta yang merupakan mahasiswa dan alumni Pasca Sarjana UGM untuk mengajukan pertanyaan. Salah satu yang menunjuk tangan bertanya apakah ada lembaga atau badan yang memantau secara khusus pelaksanaan program-program APBN, Seperti seberapa efektif program bantuan sosial menurunkan kemiskinan.

Menjawab pertanyaan itu Sri Mulyani mengatakan tidak ada badan atau lembaga yang dibentuk secara khusus untuk menilai tingkat keberhasilan dari program yang ada dalam APBN.


"Sebenarnya cek and balance dilakukan di internal juga seperti Bappenas atau di kami Kemenkeu. Kalau Badan Pemeriksa Keuangan hanya audit bersifat personal," katanya.

Namun karena hal itu, dia menantang sekaligus mengajak agar para lembaga pendidikan seperti UGM melakukan penelitian terkait hal itu yang tentunya juga bisa berfungsi sebagai pengawas.

"Saya itu merindukan universitas atau akademisi yang memelototi itu jadi saya akan senang kalau ada yang melakukannya," tuturnya.

Seharusnya, lanjut Ani, pengawasan itu mudah dilakukan, sebab akses untuk mendapatkan data tentang perekonomian secara makro mudah dilakukan. Apalagi ada BPS yang secara rutin melakukan penghimpunan data.

"BPS keluarkan data pertumbuhan ekonomi kuartalan, bahkan inflasi tiap bulan. Dulu saya waktu kuliah senang melakukan itu. Sekarang datanya jauh lebih bagus, jadi harusnya bisa. Poin saya mbok ya UGM perbesar penelitian untuk memperbaiki kualitas pemerintah," ujarnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed