Biar Enggak KO Diterjang Corona, BUMN Dapat Dana Talangan

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 09 Jul 2020 07:01 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Beberapa BUMN akan mendapat dana talangan dari pemerintah. Dana talangan ini diberikan agar perusahaan pelat merah dapat bertahan di tengah pandemi virus Corona.

Dana talangan sendiri merupakan dana pemerintah yang dipinjamkan ke BUMN. Karena dipinjamkan, perusahaan akan mengganti dana tersebut.

Hingga saat ini, belum ada keputusan final mekanisme penyaluran dana tersebut. Namun, beberapa BUMN telah mengusulkan mekanisme dana talangan ini.

Lebih lanjut, kondisi BUMN sendiri tertekan dengan adanya Corona. PT KAI (Persero) misalnya, perusahaan yang bergerak di layanan angkutan kereta api memperkirakan kas perusahaan negatif alias minus Rp 3,448 triliun hingga akhir tahun. Anjloknya kinerja perusahaan karena dampak virus Corona yang membuat mobilitas masyarakat terbatas.

Berikut rincian penggunaan dana talangan pemerintah:

1. PT KAI (Persero)

PT KAI (Persero) membutuhkan dana talangan Rp 3,5 triliun. Anggaran dibutuhkan agar kas KAI menjadi positif.

"Rencana penggunaan dana Rp 3,5 triliun akan kami gunakan biaya operasional agar kas positif," kata Direktur Utama KAI DIdiek Hartantyo saat rapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (8/7/2020).

Didiek merinci, dana itu digunakan untuk perawatan sarana perkeretaapian Rp 680 miliar, perawatan prasarana termasuk bangunan Rp 740 miliar, biaya pegawai Rp 1,25 triliun, bahan bakar Rp 550 miliar, dan pendukung operasional lainnya Rp 280 miliar.

"KAI beserta grup itu memiliki pegawai 46 ribu, induk 30 ribu, anak perusahaan ada 6 perusahaan 16 ribu," katanya.

"Ini lah kami tidak akan mengambil kebijakan PHK dan pemotongan gaji maka kami memerlukan likuiditas," tambahnya.

Didiek mengharapkan dana talangan sebesar Rp 3,5 triliun berbentuk pinjaman lunak (soft loan) dengan bunga sekitar 2-3%. Kemudian tenornya selama 7 tahun. Dalam soft loan ini diharapkan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menunjuk lembaga di bawahnya.

"Nilainya Rp 3,5 triliun jatuh temponya kami harapkan 7 tahun, instrumennya soft loan kemudian interestnya 2-3%," ungkapnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3


Simak Video "Selain Rangkap Jabatan, ICW Juga Soroti Jumlah Komisaris di BUMN"
[Gambas:Video 20detik]