Para peneliti di IMF, Florischa Ayu Tresnatri, Akbar Nikmatullah Dachlan, Galuh Chandra Wibowo, and Rifat Pasha menulis sebuah working paper yang berjudul "Stuck in the Middle with You? An Assessment of Income Dynamics in Indonesia" (Desember 2025). Paper ini menyajikan data dan analisa yang panjang dan luas (regional) tentang dinamika kelas menengah di Indonesia.
Sangat menarik mendapati ternyata dinamika tersebut terkait dengan angka pertumbuhan ekonomi di Indonesia pasca Reformasi. Selain itu paper ini juga mendapati permasalahan struktural yang menimbulkan penyusutan kelas menengah, yang juga akan coba diulas.
Pertumbuhan dan Kejatuhan Kelas Menengah
Gambar di working paper IMF tersebut, yang berjudul Kelas-Kelas Ekonomi di Indonesia, memperlihatkan perjalanan data berbagai kelas ekonomi: poor, vulnerable poor, aspiring middle class, middle class, dan upper class; sebagai%tase total populasi sepanjang tahun 2002 hingga 2024.
Penjelasan klasifikasi kelas-kelas ekonomi tersebut (berdasarkan World Bank) adalah: poor berarti masyarakat yang tingkat konsumsinya di bawah garis kemiskinan (Rp 641 ribu/kapita/bulan); vulnerable poor berarti tingkat konsumsinya di atas garis kemiskinan tapi masih di bawah 1,5 kali garis kemiskinan (Rp 961 ribu/kapita/bulan); aspiring middle class berarti tingkat konsumsinya di antara 1,5 kali garis kemiskinan dan 3,5 garis kemiskinan (Rp 2,2 juta/kapita/bulan); middle class berarti tingkat konsumsinya di antara 3,5 kali garis kemiskinan dan 17 kali garis kemiskinan (Rp 10,8 juta/kapita/bulan); dan upper class berarti tingkat konsumsinya di atas 17 kali garis kemiskinan.
Pada tahun 2002, di era Presiden Megawati, populasi aspiring middle class adalah sebesar 36%, sementara middle class sebesar 5%. Ketika pemerintahan Megawati berakhir di tahun 2004, aspiring middle class jatuh ke 32%, sementara middle class juga jatuh ke 3% populasi, dan vulnerable poor berada di level tertingginya 40% populasi.
Pada 2 tahun era Presiden Megawati ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 4,7%. Barulah pada periode pertama pemerintahan SBY, kelas menengah mendapatkan momentum pertumbuhannya. Pada tahun 2008 jumlah aspiring middle class bertumbuh hingga mencapai 57% populasi (tertinggi sepanjang Reformasi), sementara middle class bertumbuh ke 12%, dan vulnerable poor jatuh ke titik terendah di 14%. Saat itu, periode 2004-2008, pertumbuhan ekonomi rata-rata 5,9%.
Pada periode ke-2 SBY (2009-2014), rata-rata pertumbuhan ekonomi adalah 5,6%. Ini bersamaan dengan jatuhnya populasi aspiring middle class ke 46% dan semakin bertumbuh populasi middle class ke 18%. Meskipun turun secara rata-rata dalam persentase populasi, aspiring middle class, tetapi karena populasi vulnerable poor (kelas ekonomi di bawah aspiring middle class) juga turun secara landai, ini dapat diduga bahwa sebenarnya terjadi pertumbuhan kelas menengah dari aspiring middle class ke middle class.
Pertumbuhan kelas menengah ini terus terjadi hingga di 4 tahun pertama pemerintahan Jokowi (2015-2018). Dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi 5,02%, populasi aspiring middle class sedikit bertumbuh ke kisaran 47%, populasi middle class ke 23% (tertinggi selama Reformasi).
Namun sepanjang 6 tahun berikutnya di akhir pemerintahan Jokowi (2019-2024), ketika rata-rata pertumbuhan ekonomi anjlok ke 3,7% (akibat resesi Pandemi COVID-19), populasi middle class jatuh ke 16% dan populasi aspiring middle class sedikit tumbuh ke 49%, sementara populasi vulnerable poor meningkat ke 25% (dari sebelumnya 20% di 2019).
Simak Video "Video: #Tanyadetikfinance Ekonomi Tumbuh 5,6%, Apa Artinya buat Gaji Kamu?"
(ang/ang)