Lembaga penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), menyoroti transparansi saham di pasar modal Indonesia dalam pengumumannya yang dirilis pada Rabu (28/1) lalu. Pengumuman tersebut lantas membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga perdagangan diberhentikan sementara atau trading halt.
Kejadian ini disebut membuat Presiden Prabowo Subianto marah. Pasalnya, peringatan MSCI dianggap berpotensi mencoreng kehormatan negara di mata global.
"Presiden Prabowo sangat marah. Dia sangat marah atas apa yang terjadi minggu lalu, terutama terkait kehormatan negara kita yang terancam," ungkap Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, dalam acara ASEAN Climate Forum (ACF), di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Hashim mengatakan, marah Prabowo juga dipicu karena banyaknya investor ritel yang menjadi korban. Selain itu, peringatan MSCI juga disebut mempertaruhkan reputasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
"Investor ritel, banyak yang menjadi korban, kan? Banyak yang menjadi korban. Jadi ini sangat penting," jelasnya.
Hashim menambahkan, pemerintah akan mengawasi otoritas pasar modal lebih ketat. Penguatan pengawasan ini dilakukan untuk menjaga kehormatan negara.
"Pemerintah Indonesia bertekad untuk menjaga kredibilitas dan kehormatan Republik Indonesia. Bagi Pak Prabowo, kehormatan Republik Indonesia sangat penting. Jadi, beliau akan mengawasinya dengan sangat ketat," imbuhnya.
Sebagai informasi, IHSG sempat melemah hingga 7,35% ke level 8.320,55 pada perdagangan Rabu (28/1) menyusul pengumuman MSCI. Pada hari yang sama, IHSG bahkan sempat trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham di sesi II perdagangan.
Langkah trading halt juga diambil BEI setelah IHSG melemah 8% pada sesi I perdagangan Kamis (29/1) kemarin. Meski terjadi trading halt, IHSG kembali menguat di penutupan perdagangan meski masih terkoreksi 1,06% ke level 8.232,20.
Adapun dalam pengumumannya, MSCI menyoroti terkait kepemilikan saham dan free float saham di Indonesia. Indeks global ini memberi waktu bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk memenuhi aspek transparansi hingga Mei 2026.
Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emergen MSCI untuk semua sekuritas Indonesia. Selain itu, jika perbaikan tak kunjung dilakukan, MSCI berpotensi menurunkan klasifikasi pasar saham Indonesia dari status Emerging Market ke Frontier Market.
Tonton juga video "Prabowo Tekankan Kualitas Hidup, Sekolah Rakyat Jadi Kunci"
Saksikan juga Eksklusif Update: Kopdes Merah Putih Jadi Solusi Lapangan Kerja bagi Generasi Muda
(acd/acd)