×
Ad

Bahlil Tugaskan Lemigas Bakal Impor Minyak Rusia

Heri Purnomo - detikFinance
Senin, 08 Jun 2026 13:12 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia/Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia bakal menugaskan Badan Layanan Umum (BLU) energi, Lemigas untuk impor minyak dari Rusia. Sebagai informasi, Indonesia bakal mengimpor minyak dari Rusia 150 juta barel.

Hal ini seiring dengan telah diterbitkannya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan Minyak Bumi, Bahan Bakar Minyak (BBM), dan/atau Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk ketahanan energi nasional.

"Ya, salah satu salah satu (Lemigas) di antaranya nggak ada masalah. Akan diarahkan untuk kemungkinan itu bisa terjadi," ujar Bahlil di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (8/6/2026).

Bahlil mengatakan bahwa, hari ini dirinya akan berkomunikasi dengan Lemigas terkait rencana impor tersebut. Ia mengatakan tujuan Lemigas bisa impor ini untuk memotong mata rantai dalam proses impor yang selama ini ada.

"Tujuannya apa? Agar memotong mata rantai daripada proses yang selama ini terjadi. Dan itu bisa G-to-G. Ah, kalau presiden katakanlah melakukan kerja sama dengan negara lain terkait dengan crude itu bisa langsung G-to-G dan ditindaklanjuti lewat G-to-B lewat negara gitu ya," ujarnya.

Impor 150 Juta Barel Minyak Rusia

Sebelumnya, Indonesia mendapatkan komitmen pasokan minyak sebanyak 150 juta barel dari Rusia usai pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin awal pekan ini. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan komitmen pasokan dari Rusia ini untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun.

"Kemarin kan sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun. Jadi, itu kan baru komitmen pembahasan waktu kunjungan Presiden dan juga Pak Menteri keRusia," ujarnya saat ditemui di Kantor Ke ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).

Yuliot menambahkan, pasokan tersebut nantinya tidak akan dikirim secara langsung 150 juta barel. Melainkan dilakukan pengiriman secara bertahap.

"Skemanya itu kan tidak bisa sekaligus. Itu kalau sekaligus itu kan kita memerlukan oil storage di dalam negeri. Itu kan akan dilakukan impors ecara bertahap," katanya.




(hrp/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork