Rencana pemerintah membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tekstil mengemuka. Beberapa pihak menilai rencana ini kurang tepat dan keliru, sederet masalah di industri tekstil belum tentu selesai dengan membentuk BUMN tekstil.
Pengurus Ikatan Ahli Tekstil Seluruh Indonesia (IKATSI), Rizal Tanzil juga menilai pembentukan BUMN tekstil tidak relevan saat ini. Baginya, industri tekstil tak perlu pemain baru, bahkan meskipun perusahaan sebesar PT Sritex bangkrut.
Jika pemerintah mau memperbaiki industri tekstil, menurutnya sektor usaha harus mendapatkan penanganan khusus untuk memacu produktivitasnya, misalnya pemerintah ikut memperkuat permesinan, utamanya di sektor pengolahan atau midstream seperti industri dyeing kain, printing kain, atau finishing kain.
"Jadi, industri tengah dibantu, misal dyeing, finishing, printing, mereka harus mudah dan murah untuk investasi mesinnya," kata Rizal kepada detikcom, Senin (26/1/2026).
Penguatan rantai pasok dalam negeri juga harus diperkuat, misalnya suplai kain ke industri garmen. Seharusnya pemerintah bisa membantu industri kain untuk memperkuat produksinya.
Dia meminta agar rencana deregulasi yang digemborkan selama ini oleh pemerintah harus dipercepat dan dijalankan dengan serius. Baginya, semua regulasi yang justru kontra terhadap investasi dan pertumbuhan industri tekstil bisa dihilangkan.
(hal/ara)