×
Ad

PMI Manufaktur RI Bertahan di Tengah Tekanan Global

Diffa Rezy - detikFinance
Rabu, 01 Apr 2026 20:39 WIB
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret 2026 berada di level 50,1 atau masih dalam zona ekspansi. Hal ini menunjukkan ketahanan manufaktur nasional di tengah ketidakpastian kondisi global seperti konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, serta kenaikan harga bahan baku.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengaku terkejut sekaligus bersyukur atas capaian tersebut.

"Kami kaget sekaligus bersyukur bahwa di tengah kondisi yang super berat, baik dari sisi global maupun domestik, rata-rata PMI manufaktur Indonesia masih di atas angka 50. Ini menunjukkan resiliensi yang kuat dari sektor manufaktur Tanah Air," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2026).

Sepanjang Triwulan I Tahun 2026, PMI manufaktur Indonesia konsisten berada di fase ekspansi, yakni 52,6 pada Januari dan naik menjadi 53,8 pada Februari, sebelum melandai ke 50,1 pada Maret. Meski mengalami perlambatan, posisi indeks yang tetap di atas 50 menandakan aktivitas industri masih tumbuh.

Agus menegaskan, capaian tersebut didukung oleh kekuatan struktur industri nasional serta permintaan domestik yang terjaga.

"Fundamental industri kita masih kuat. Permintaan dalam negeri tetap menjadi penopang utama, sehingga mampu menahan tekanan eksternal yang cukup besar," katanya.

Secara global, posisi PMI Indonesia juga tergolong kompetitif. Sejumlah negara utama mengalami perlambatan pada Maret 2026, termasuk Jepang yang mencatat PMI sebesar 51,6, turun dari bulan sebelumnya meski masih berada di zona ekspansi.

Di kawasan ASEAN, Indonesia tetap berada di kelompok negara dengan PMI ekspansif bersama Thailand (54,1), Malaysia (50,7), Myanmar (51,5), dan Filipina (51,3). Namun, tidak semua negara mampu menjaga momentum ekspansi secara konsisten, menandakan tekanan global terjadi di berbagai kawasan.

Lebih lanjut, survei PMI secara global menunjukkan bahwa tekanan inflasi meningkat dan rantai pasok terganggu akibat konflik geopolitik, khususnya di Timur Tengah, yang berdampak pada kenaikan biaya energi dan bahan baku.

"Kalau kita lihat secara global, hampir semua negara mengalami tekanan yang sama, baik dari sisi biaya maupun supply chain. Dalam hal ini, Indonesia masih mampu bertahan di zona ekspansi, ini tentu menjadi capaian yang patut diapresiasi," tutur Agus.

Pada Maret 2026, terjadi penurunan output dan pesanan baru seiring dengan terganggunya pasokan serta naiknya harga bahan baku. Selain itu, waktu pengiriman bahan baku pun mengalami keterlambatan paling tajam sejak Oktober 2021.

Tekanan biaya juga meningkat signifikan dengan inflasi harga bahan baku mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Kondisi ini mendorong produsen untuk menyesuaikan harga jual guna menjaga keberlanjutan usaha.

Namun, pelaku industri masih menunjukkan optimisme terhadap prospek ke depan. Pada survei Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Maret 2026, sebanyak 73,7% responden menyatakan kegiatan usahanya membaik dan stabil dengan tingkat optimisme 6 bulan ke depan sebesar 71,8%.

Kementerian Perindustrian pun terus melaksanakan berbagai langkah strategis untuk menjaga ketahanan sektor manufaktur, termasuk penguatan struktur industri, peningkatan utilisasi kapasitas produksi, serta optimalisasi pasar domestik sebagai penopang utama pertumbuhan.

Selain itu, pemerintah juga fokus menjaga kelancaran pasokan bahan baku dan logistik industri, serta menciptakan iklim usaha yang kondusif agar sektor manufaktur tetap kompetitif di tengah dinamika global.

"Kami bersama kementerian/lembaga (K/L) terkait akan terus memastikan industri dalam negeri tetap bergerak, adaptif, dan kompetitif. Ketahanan ini harus dijaga karena sektor manufaktur merupakan tulang punggung ekonomi nasional," pungkas Agus.



Simak Video "Video: Prediksi Starting XI Timnas Indonesia Lawan Bulgaria Malam Ini"

(prf/ega)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork